image
image

Ketika Pendidikan Menjadi Satu Kemewahan

February 3rd, 2010

By Be Samyono (02022010-23.53)

Bukan kata yang mendramatisir bila kini saya katakan bahwa pendidikan menjadi satu barang mewah di negeri ini yang berusaha digapai oleh banyak orang tua murid. Untuk bisa bersekolah bermutu, kepandaian saja tidaklah cukup dimiliki seorang siswa, perlu limpahan materi untuk bisa “ditukar” dengan ilmu yang dia inginkan. Hingga timbul pertanyaan, bagaimana posisi siswa tak pandai dan miskin. Tersingkirkan?. Pendidikan adalah hak anak negri untuk memperolehnya, dan bila negara mampu mendidik anak negeri dengan system pengajaran yang tepat dan terjangkau. Tak terkira limpahan human capital yang kita punyai dan tak terkira kesejahteraan yang bakal kita nikmati. Namun sayangnya itu masih mimpi, kenyataannya dunia pendidikan masih mendiskriminasikan mereka yang tak mampu baik secara finacial ataupun kepandaian. komersialisasi pendidikan tidak saja melahirkan generasi yang timpang tapi juga pendegradasian moral yang akut.

Saya setuju dengan tulisan rekan Wahyu B. Hanggono, seorang pengamat pendidikan Indonesia yang tajam mengatakan “fakta bahwa pendidikan di Indonesia masih terpaku pada birokrasi, legalisasi dan indoktrinasi program dan kurikulum. anak-anak diarahkan menjadi produk yang sama, potensi dan jiwa anak sama sekali tidak dihargai. Ibarat kata sistem pendidikan di indonesia hanya bertujuan untuk mengasah pisau tajam bukannya berusaha menjadikan bijih besimenjadi aneka perkakas yang berguna.” Jelasnya pendidikan di Indonesia hanya bisa memproses bahan baku dengan kualitas tertentu menjadi suatu barang dan mereject bahan baku yang tidak sesuai standart menjadi rongsokan atau tepatnya “sampah masyarakat”.

Satu yang menarik bila dikatakan bahwa hendaknya pendidikan dasar (SD-SMP) lebih ditekankan pada pendidikan ketauhidan, akhlak, pengembangan pribadi dan potensi anak. Hingga pendidikan dasar ini bisa menjadi penggemblengan sikap dasar yang memang harus dimiliki seorang anak hingga dapat beradaptasi dengan lingkungannya sesuai dengan potensi dan keunikannya. untuk itu penilaian deskriptif/naratif amat mutlak diberikan daripada penilaian angka di dalam rapotnya. Nantinya baru dalam pendidikan lanjutan penajaman skill bisa diarahkan secara tepat dan dinilai sesuai sdtandart keahliannya.

Saya teringat dengan satu perumpamaan. Ibarat dalam sebuah hutan yang dihuni oleh berbagai macam hewan. Mestinya pendidikan dasar di hutan diarahkan untuk mendidik sikap dasar binatang yang ada di hutan agar mampu beradaptasi sesuai dengan keunikannya. Seperti bertahan hidup, beregenerasi dan sebagainya. Bukannya di ajar untuk bisa menguasai keahlian yang sama karena pada dasarnya mereka punya potensi yang berbeda dan keunikan tersendiri. Pada gilirannya potensi serta keunikan inilah yang akan menentukan mereka untuk bisa memasuki pendidikan lanjutannya. Burung akan belajar terbang dan ikanpun akan belajar berenang. Hingga jelas disini tak ada satu niatan untuk menyingkirkan si bodoh atau menjadikan semua pribadi sebagai produk yang sama.

Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya. Hendaklah untuk saling memolong dan menutupi kekurangan bagi sesama. Jangan biarkan carut marut pendidikan negri ini makin membarutkan luka yang semakin bernanah. Karena kemiskinan dan kebodohan di negri ini berawal dari keengganan si kaya untuk berbagi harta dan si pintar untuk berbagi ilmu.

(Pic: Koran Tempo)

Filed under: Education & Training

One Comments to “Ketika Pendidikan Menjadi Satu Kemewahan”

Leave a Reply

(required)

(required)


« Saatnya Membangun Kolaborasi - Menghadapi Permasalahan Bisnis »

About Me



About Mine

    RSS SamRoads [Life Style]

    • Rayuan Pagi
      By Be Samyono (20042010.15.17) Pagi itu aku sudah mandi dan bersiap, seperti biasa aku akan mengantar ayah dan bunda kerja sebelum ikut abang Dika sekolah di PAUDnya.  Kelasku sendiri baru akan mulai Juli nanti rasanya tak sabar bila harus menunggu. Ikut kelas abang Dika sedikit banyak bisa menghiburku.  Kulihat pagi ini ... […]
    • Sebuah Hukuman dari Sophie (Catatan Ayah)
      By Be Samyono (24032010-08.41) Tak ada yang lebih menyakitkan selain menghadapi rasa penolakan seorang anak.  Saya tidak pernah membayangkan bila Sophie bisa melakukannya sedini ini.  Saya dan Bundanya mencoba memahami kondisi yang tengah terjadi, mencoba tak membebankan kesalahan namun segera berupaya mencari solusi.  Keyakinan kami cukup sederhana.  Tak ad […]

    RSS SamWords [Fiction]

    • Patok
      By Be Samyono (28082009-13.34)Kepalaku sudah dalam peciku, tubuhkupun telah berada dalam sarungku. Dan kini seperti beberapa tahun yang lalu aku kembali berada disini. Di Musholla ini. Musholla persinggahan. Tempat menumpang saat tarawih ramadhan datang.Tak ada yang berubah. Pilar kokoh berukir masihlah menaungi, muram berbalut tarikan benang jaring laba- […]
    • Aku “Dipaku Priaku” Mengucap
      By Be Samyono (17112008-09.30)Hanya terinspirasi begitu saat aku menuliskan fiksi “Dipaku Priaku”. Inspirasi dari beberapa teman dengan pengalaman serupa dan terispirasi dari rekan yang terlepas pasungnya. Sebaris email minggu aku terima dari seorang diantara mereka. Dari seorang AKU “DIPAKU PRIAKU” yang berucap:Hai Sahabatku yang Memahami Hatiku….Setelah se […]

    RSS SamLens [Photography]



My Bizz



My Networks



Category




Recently Writing

Recent Comments

  1. armina: perencanaan yang baik adalah usaha dan ikhtiar terhadap suatu hasil yang diinginkan, semua hal memang harus...
  2. dodi ichwana: kunjungi juga blog saya di ichwana.blogdetik.com dan di blog.unand.ac.id/ichwana terima kasih…....
  3. Emily N.: Hi, I’m very interested in Linux but Im a Super Newbie and I’m having trouble deciding on the...
  4. rennypebrica: info yang menarik dan bermanfaat.thanks atas ilmunya pak. Blog saya
  5. Ramona: bagus bagus bagus d^_^ ramonesblog :)
  6. Ramona: infonya bagus..salam kenal aj mas.. aku baru ngeblog..heuheu.. ;) ramonesblog
  7. Ramona: Makasih onfonya pak.. bisa nambah ilmu neh.. ;) ramonesblog :)
  8. tikak: Mantap pak atas ilmunya, terimakasi atas sharing ilmu bisnis yang pak sam dan KMM 5 berikan..
  9. be samyono: salam pak Opan… wah kemana saja nih lama tidak melihat kehadiran pak opan di TDA jaksel. Makasih...
  10. Opan RajaKerupukUdang.com: Uraian yg sangat inspiratif Pak Sam…walaupun gak hadir di KMM 5, serasa dapat point2...
  11. Sonny B Sofjan: Paragraf terakhir… setuju banget pak….. :)
  12. typography: setuju mas!
  13. Setiaji: Setuju Mas Sam. Kolaborasi menjadi sangat penting untuk tercapainya tujuan bersama. Btw TDA Jaksel itu...

Syndicate

  1. RSS 2.0
  2. Atom
  3. RSS 2.0 (Comments)

Statbadge

  1. Pagerank:
    2/10
  2. Technorati Rank: -1
  3. Alexa Rank: 1,530,355

I am:

Visitor:

  • 5 currently online
  • 68509 total visitors


Socialite


    Be Samyono 'Sam'

    Create Your Badge