Seorang Doktor (S3) dan Dosen Berbisnis Fotocopy

Disadur dari: Tulisan Pak Iim Rusyamsi di UKMSUKSES.COM 

“Just a Smart, Simple, and Systematic person” begitulah beliau mendefinisikan dirinya. Lelaki dengan nama lengkap Be Samyono ini awalnya bekerja sebagai arsitek pada pengembang perumahan tepi pantai di Surabaya. Masa kerja 4 tahun tidak juga menyadarkan dirinya akan dunia bisnis hingga masa resesi ekonomi terjadi di tahun 1998, perusahaan yang berada dalam sektor properti terpuruk, beberapa pengetatan dan strategi usaha baru diterapkan oleh Bp. Dahlan Iskan. Salah satunya adalah mengelola promosi perusahaan secara mandiri tanpa melalui agency. Secara pribadi Bp. Dahlan Iskan menunjuk lelaki kelahiran Magetan, 2 Mei ini dan membawa dia ke Graha Pena untuk mendalami graphic design di perusahaan induk JAWA POS diberi kepercayaan untuk mengelola materi promosi above the line di media cetak. Disinilah Sam mulai membantu kakak-nya untuk mengembangankan usaha Photocopy baru di jakarta melalui beberapa pekerjaan yang bisa di support dari Surabaya.

Akhir tahun 2009 Sam resign untuk melanjutkan S2 di Yogjakarta. Hingga saat kuliah usai, dia mencoba menetap di Jakarta untuk mencari pekerjaan. Namun, dengan kompetensi dan gelar yang dimiliki, tak ada satu pekerjaanpun yang bisa didapatkan. Dari sinilah Sam akhirnya mendirikan usaha pertamanya, MR COPY yang bergerak di bidang photocopy, percetakan dan stationery pada tanggal 1 Oktober 1998.

Bisnis photocopy dipilih lelaki yang mengambil gelar Doctor di UNJ ini karena melihat prospeknya yang cukup menjanjikan dan merupakan salah satu kebutuhan primer untuk perkantoran. Maka dipilihlah lokasi di salah satu gedung di jalan Sudirman dan blok perkantoran sebagai target pasarnya. Sam yang mengajak kakak-nya sebagai partner leader dari proyek ini melihat peluang yang belum digarap dalam bisnis ini. Meski banyak kesangsian, terlebih berkenaan dengan lokasi di gedung dimana biaya sewa dalam bentuk dollar yang fluktuatif, namun keyakinan menjadi pendorong yang besar untuk merealisasikannya.

Outlet pertama dibuka di gedung WTC metropolitan. Dengan hanya menempatkan 2 mesin photocopy canon modal sendiri, 1 karyawan terlatih serta 1 asisten. Cost terbesar adalah untuk investasi tempat. Dalam waktu satu setengah tahun Mr. Copy WTC berkembang pesat. Divisi stationery pun dibuka dengan outlet terpisah. Mereka berinisiatif untuk menambah investasi dengan membuka 2 outlet baru di Gedung BII Thamrin serta Gedung BRI Sudirman di tahun 2000. Namun perkembangan kedua outlet tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan seperti halnya outlet pertama. Mr. Copy – BII ditutup setahun kemudian dengan masalah mendasar kesalahan dalam memilih lokasi dan Mr. Copy – BRI tetap dipertahankan dengan subsidi Mr. Copy – WTC. Pertengahan 2001, secara penuh Sam pindah ke Jakarta dan mengambil alih pengelolaan MR Copy – BRI.

Kestabilan Mr. Copy Bri tercapai tahun 2003. Diversifikasi layananpun mulai dikembangkan untuk menjadikan Mr COPY sebagai Business Center yang integrated. Di tahun 2004 bersamaan dengan dibukanya outlet baru dibawah brand yang beda – MAESTOGRAPH, Sam melakukan beberapa perubahan budaya organisasi dan inovasi, diantaranya memayungi diversifikasi usaha dalam naungan 1 manajemen PusatPhotocopy.Com. Strategi dan tujuan bisnis makin diperjelas dengan mulai memantapkan manajemen perusahaan, memberdayakan karyawan, mengimplementasikan sistem dan teknologi juga mulai melakukan kerjasama dan pembentukan citra perusahaan. Sampai sekarang PusatPhotocopy.Com telah mempunyai keunggulan dibeberapa layanan one stop solution yang terangkum dalam www.pusatphotocopy.com, membawahi 17 tenaga kerja, 3 outlet Mr Copy dengan pangsa pasar blok-blok perkantoran di pusat kota dan 3 outlet MAESTOGRAPH dengan pangsa pasar kantor, sekolah dan kampus.

Setelah MR COPY berdiri, tentunya Sam juga menghadapi beberapa kendala yang akhirnya menimbulkan tekanan, bahkan Sam sempat berfikir panjang untuk menentukan kelangsungan usaha MR COPY dimana saat itu harusnya lebih mudah baginya karena Sam juga masih mempunyai usaha profesi. Namun yang akhirnya membuatnya bertahan untuk meneruskan MR COPY adalah nasih tujuh orang karyawan yang bergantung padanya.

Bagi suami dari Yeni Puspitasari dan ayah dari Kinanthi Sophia Ambalika ini, bisnis adalah suatu proses dan juga suatu pilihan. Sebagai proses, bisnis tidak hanya berhenti pada satu keinginan dan motivasi untuk berbisnis, namun harus di realisasikan pada kemampuan diri untuk selalu menerapkan kreatifitas dan inovasi yang tidak boleh berhenti. Bisnis akan berkembang bila didukung oleh usaha yang tak henti untuk selalu mengasah kemampuan manajerial di semua aspek yang diperlukan. Pada akhirnya bisnis adalah pengembangan suatu kemampuan kepemimpinan untuk memberi arahan yang tepat. Sebagai pilihan, bisnis bisa dibentuk dan fungsikan sesuai pilihan. Landasan spiritual yang Sam pilih untuk menjalankan bisnis sejak awal telah memberi identitas dan cara bisnis yang tidak saja memberi manfaat pada pribadi dirinya namun juga manfaat lebih dan beragam bagi karyawan. Memaksimalkan nilai hidup melalui bisnis akan didapatkan melalui proses dan pilihan ini.

“terima kasih atas tulisan profile ini”

Facebooktwitterredditpinterestmail

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


five + 9 =