New Normal? Normalkah kita?

By Besamyono [26052020-19.30]

Gaung new normal atau pelonggaran terhadap PSBB mulai santer akan diberlakukan pemerintah.  Seperti biasa berbagai kubu dan mulut mulai menyuarakan pendapat baik secara lantang ataupun berlaku berisik di media social.   Nada optimis dan pesimis beradu diantara kelantangan nada sumbang kemasabodohan yang dibungkus dengan cercaan.  Yah siapa yang tidak tahu perilaku warga +62. Dari sekian banyak alasan pemberlakuan scenario new normal, alasan pemerintah untuk menyelamatkan nafas ekonomi sebagian besar dunia usaha termasuk BUMN yang makin sulit selama PSBB menjadi yang utama.  Topik  membenturkan pilihan antara ekonomi VS kesehatan inilah yang tajam menjadi sorotan. Tentunya ini tidak mudah untuk diambil oleh pemerintah. 

Diantara kepesimisan mengingat data kurva kornban pandemic Covid-19 Indonesia yang belumlah menuju turun apalagi datar, jelas skenario ini menjadi menarik diperbincangkan.  Sederhana saja apapun scenario new normal ini bila di dukung dengan kesiapan protokol, sarana, prasarana memadai serta yang terpenting komitmen dan kedisiplinan dalam menjalankan scenario itu.  Bagi saya tidaklah akan menjadikan satu ketakutan yang berlebih.  Karena sadar tidak sadar covid-19 tidaklah bakal hilang satu dua hari ini.  Dan vaksinpun masih jauh dari harapan.

Namun jika merujuk  attitude dan perilaku kita dalam menjalankan PSBB, melaksanakan protokol kesehatan bahkan ketersediaan sarana dan prasarana supporting kesehatan.  Jangan salahkan bila saya pribadi cukup ragu hal ini akan menjadi boomerang buat kita.  Jangan salah menilai saya tidak berpihak pada new normal.  Dua bulan stay at home bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Namun dengan tidak mengontrol dengan baik pemberlakuan new normal sama artinya kita ibarat mereguk air laut.  Tidaklah akan selesai masalah dahaga kita namun masalah lain akan segera menimpa dan lebih berat menghadapinya.

Janganlah berbicara dulu mengenai adaptasi, inovasi, dan berkreativitas sebagai strategi menghadapi new normal.  Hal utama yang harus di rujuk adalah kembali kebasik yaitu bagaimana menata dan menggerakkan kedisiplinan masyarakat dan pelaku usaha untuk bersama bergerak selaras dengan scenario new normal.  Saya rasa perlu adanya aturan yang ketat hingga adanya punishment untuk memberi efek jera bagi pelanggaran-pelanggaran yang ada.  Dan tak lupa selalu memantau perkebangan kondisi kesehatan masyarakat secara berkala untuk secepatnya merumuskan strategi dan tindakan baru berdasar hasil pantauan berkala itu.  Saya begitu yakin bahwa nantinya semua peraturan akan gamblang tertulis namun bila penegakan kedisiplinan tidak di upayakan, akan menjadi sia hasil yang akan diperoleh dengan upaya yang diskenariokan.

Benar adanya bahwa scenario new normal ini adalah sebuah transformasi ini untuk menata kehidupan dan perilaku baru ketika pandemi yang kemudian akan dibawa terus ke depannya sampai ditemukannya vaksin untuk Covid-19. Satu mile stone untuk menuju kenormalan yang sesungguhnya.  Tentunya hal ini tidak saja perlu watu lebih dari itu perlu komitmen, kedisiplinan dan persepsi positif bahwa ini sebuah upaya bersama bangsa kita.

Note:  Panduan Lengkap New Normal Indonesia 

Facebooktwitterredditpinterestmail

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


4 + nine =