Sajadah Panjang Sebuah Amanah [1]

Tulisan ini sebenarnya diperuntukkan untuk melanjutkan buku 1 “kisah Inspiratif Dosen UAI”  dalam bentuk antologi.  Namun karena satu dan lain hal tulisan ini belum terpublish.  Ibarat Kata dibuang sayang maka tulisan ini saya publish sebagai jejak perjalanan.

Quotes:

Kemuliaan hanya akan melekat pada kekuasaan yang digelar sebagai alas bagi  pengabdian dan kemanuasiaan

——-

“Pulang?” Tanya kakek saya begitu melihat mata saya yang sayu.

Saya menggeleng kecil. Meski mata kecil saya sudah berat menahan kantuk, namun tidak dengan keinginan hati saya. Padahal waktu sudah menunjukkan lewat dari pukul 2 dini hari.

Perlahan saya beringsut memperbaiki posisi duduk dengan menyandarkan kepala mencari kenyamaan dipangkuan kakek saya.  Tak lama saya kembali menikmati suasana yang tidak ber angsur sepi.

Seperti saat pertunjukan-pertunjukan sebelumnya, rancak suara gamelan, kibas wayang dan nyaringnya suara kecrek yang dimainkan di ujung kaki dalang selalu membangunkan keinginan saya untuk tetap terjaga. Untuk kembali menonton setiap pertunjukan wayang tak peduli waktu selarut apa.

Bagai tersihir dengan siluet bayangan hitam putih wayang yang tercipta dibalik kelir saya menikmati setiap tutur dan cerita yang tidak semiskin warnanya itu. Saya melihat begitu banyak semburat warna disana. Tak ada warna hitam dan putih mutlak yang digambarkan dalam kehidupan. Selalu ada niat, prinsip, takdir dan karma yang mewarnai sajadah panjang perjalanan hidup yang akhirnya menjadi penentu siapa jatidiri kita.

 Dan kembali seperti biasa begitu pertunjukan berakhir kakek saya harus merelakan punggungnya menggendong beban kecil tubuh saya yang telah terbuai dalam mimpi menuju perjalanan pulang.  Dan bersiap untuk menerima pertanyaan-pertanyaan saya tentang cerita malam ini esok harinya.

…………

Cerita mengenai wayang bukanlah hanya sebuah episode singkat dalam hidup saya sebagai orang Jawa.   Sedemikian mengakarnya pengaruh budaya itu hingga falsafah hidup sayapun terinspirasi darinya, terutama bagaimana diri ini bersikap dan berprinsip serta bersikap professional dalam bekerja.  Membentuk jatidiri saya dalam membentangkan sajadah panjang pengabdian saya.

Perjalanan karir saya di UAI cukup menarik dan patut saya syukuri.  Amanah bergabung di struktural ditawarkan kepada saya ditahun kedua setelah saya menjadi dosen tetap. Ada 3 Direktorat  yang berbeda yang telah dipercayakan untuk saya tangani hingga ditahun ke 6 pengabdian saya disini. 

Challenging dan Agile begitu jawaban saya bila ditanya mengenai perjalanan karir saya ini.  Betapa tidak?,

Direktorat Keuangan, Direktorat SDM dan terkhir Direktorat Kerjasama yang menjadi tanggung jawab dan amanah saya merupakan direktorat dengan bidang yang berbeda tata kelolanya. Demikian juga dengan kompleksitas akan permasalahan sumber daya dan tekanan didalamnya. Hal ini cukup challenging, pelik dan mengharuskan saya untuk agile cepat beradaptasi.

Keberadaan saya sebagai pejabat struktural adalah bonus amanah bagi saya sebagai dosen.  Dan saya melihat hal ini bukan sebagai jabatan ataupun kekuasaan melainkan satu keihlasan untuk melakukan pelayanan pada UAI.

Sayapun tak menampik untuk harus meluangkan waktu dan tenaga untuk belajar dan mempelajari bidang baru yang di amanahkan ini melalui belajar mandiri, mengikuti training/workshop ataupun sertifikasi.  Karena bagaimanapun hakekat bekerja adalah mampu untuk memahami pekerjaan dan mengontrol nya menjadi lebih produktif.

Sayapun berprinsip untuk tidak ada kepentingan pribadi yang menjadi tendensi saya dalam menjalankannya.   Saya berusaha menyikapi bahwa loyalitas dan pengabdian saya letakkan pada UAI, pada institusi dan bukan pada pihak perorangan semata.

Disinilah sikap dan prinsip saya terbentuk dari contoh yang tergambar dari cerita wayang yang terpapar setiap babak yang saya tonton.  Saya paham sekali bahwa setiap tindakan akan menuai konsekuensi dan bagaimana satu niat serta prinsip yang di ambil akan menunjukkan diri kita sejatinya.  Menjadikan pekerjaan sebagai amanah pertanggungjawaban akhir akan membentuk saya menjadi lebih professional.

Saya sadari bahwa niat dan prinsip kerja tidaklah cukup sebagai bekal untuk bisa memimpin satu direktorat.  Ada 3 hal lain yang selalu menjadi strategi saya bekerja yaitu: teamwork building, support system dan continuous learning. [bersambung]

Facebooktwitterredditpinterestmail

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


1 + = five