<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SamBizz - Business &#38; Personal Website of Be Samyono [Inspiring the business &#38; entrepreneurship] &#187; Business Philosophy</title>
	<atom:link href="http://www.be-samyono.com/category/philosophy/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.be-samyono.com</link>
	<description>Business, entrepreneur, lifestyle, fiction, photography, bisnis, kewirausahaan, gaya hidup, cerita fiksi, photografi, bambang eko samiono</description>
	<lastBuildDate>Thu, 06 Oct 2011 04:01:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.3</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Self Coaching Practice</title>
		<link>http://www.be-samyono.com/2011/10/06/self-coaching-practice/</link>
		<comments>http://www.be-samyono.com/2011/10/06/self-coaching-practice/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 04:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>be-samyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business Philosophy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.be-samyono.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tak dipungkiri beberapa kali tercatat ketidak konsistenan merambah pada penulisan blog ini semenjak dibuat.  Alasan klasik, sibuk. Dan alasan yang tak dapat ditolerir adalah kemalasan.  Sementara kebosanan menjadi alasan yang menggantung menginat tulis menulis adalah sebuah passion bagi saya.  Saya tak ingin mencari kambing hitam.  Selain menerimanya sebagai siklus kesadaran saya dipalingkan pada tujuan saya membangun blog ini.  Bukan untuk popularitas.  Menulis adalah wujud lain dari pembelajaran kedisiplinan buat saya.  Bila ujungnya demikian maka saat kurva semangat itu menurun tak ada yang lebih baik kecuali menyadarkan diri dan bersemangat untuk berjalan di garis tujuan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone" title="coach" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/coaching.jpg" alt="" width="388" height="309" /></p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin pertanyaaan yang terbesar bukan lagi kenapa fluktuasi dalam menulis terjadi. Namun kini lebih pada Bagaimana agar konsistensi dalam menulis terjaga.  Saya orang yang cukup procedural dan saya yakin bukan hal yang sulit bagi saya untuk membuat jadwal menuliskan prioritas bahkan sekaligus menjalankannya. Namun saya rasa bukan disitu permasalahannya [.......] </p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">By Be Samyono [05092011-10.56]</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tak dipungkiri beberapa kali tercatat ketidak konsistenan merambah pada penulisan blog ini semenjak dibuat.  Alasan klasik, sibuk. Dan alasan yang tak dapat ditolerir adalah kemalasan.  Sementara kebosanan menjadi alasan yang menggantung menginat tulis menulis adalah sebuah passion bagi saya.  Saya tak ingin mencari kambing hitam.  Selain menerimanya sebagai siklus kesadaran saya dipalingkan pada tujuan saya membangun blog ini.  Bukan untuk popularitas.  Menulis adalah wujud lain dari pembelajaran kedisiplinan buat saya.  Bila ujungnya demikian maka saat kurva semangat itu menurun tak ada yang lebih baik kecuali menyadarkan diri dan bersemangat untuk berjalan di garis tujuan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone" title="coach" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/coaching.jpg" alt="" width="388" height="309" /></p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin pertanyaaan yang terbesar bukan lagi kenapa fluktuasi dalam menulis terjadi. Namun kini lebih pada Bagaimana agar konsistensi dalam menulis terjaga.  Saya orang yang cukup procedural dan saya yakin bukan hal yang sulit bagi saya untuk membuat jadwal menuliskan prioritas bahkan sekaligus menjalankannya. Namun saya rasa bukan disitu permasalahannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa waktu belakangan ini saya dihadapkan pada masa didepan saya.  Target, keinginan, rencana baru dan segudang hal-hal yang ingin saya lakukan sebelumnya.  Saat saya melangkah ternyata saya diharuskan menoleh.  Dibelakang begitu banyak hal-hal lama yang justru menjadi ganjalan.  Pekerjaan yang belum terselesaikan, ilmu yang tak lagi terasah dan diimplementasikan, hal-hal kecil yang belum sempurna dan segala macam belenggu lain yang harus diurai.  Ujungnya mudah ditebak.  Saya kehabisan waktu untuk menyelesaikan itu semua.  Saya juga tidak punya tenaga untuk melakukan banyak hal baru lagi.  Seakan semua pekerjaan seperti bilangan yang harus diberi pangkat dan sebesar itulah beban saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila ada kalkulator yang mampu menghitung hal ini dan menghasilkan output kinerja saya yakin bahwa hal yang terjadi ini sangatlah tidak efisien.  Terlebih bila saya tidak membarenginya dengan kerja keras dan efektif.  Bisa ditebak bagaimana tidak bergunanya apa yang saya lakukan dalam hidup ini.  Saya tidak menginginkan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ilmu manajemen waktu jelas bahwa membuat prioritas pekerjaan amatlah penting dan menjadi kunci.  Namun bila melihat kasus ini bisa terlihat bahwa semua prioritas bagi saya.  Ini jalan buntunya.  Coba kita urai, bila saya masih mempunyai banyak prioritas tentunya ada yang tidak benar dalam hal ini.  Bisa jadi saya menuju ke tempat yang saling berbeda dengan keinginan mencapainya secara maksimal.  Sehingga bisa ditebak konsentrasi saya menjadi terbelah.  Pelan namun pasti saya seakan menemukan Jawabnya. Saya kehilangan FOKUS! Inilah masalah yang sebenarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">*****</p>
<p style="text-align: justify;">Saya terkejut!  Ternyata saya mampu untuk mengcoach diri saya sendiri.  Menemukan jawab atas permasalahan saya.  Membiarkan pertanyaan mengalir dan mencari jawab di setiap kemungkinan.  Coaching sendiri merupakan satu proses meningkatkan kinerja atau memecahkan permasalahan.  Saat baris  pertama tulisan ini saya goreskan saya tidak menyangka akan ada ending yang merupakan solusi.  Mungkin anda bisa mencoba cara yang telah saya lakukan atau bila permasalahan anda hampir sama dengan yang saya hadapi anda tak usah repot.  Kita telah sama sama menemukan Jawaban atas permasalahan realnya. Toss!  PR sekarang adalah bagaimana saya berusaha untuk focus J.  Saya rasa ini bukan hal yang mudah.  Dimana saya harus melepas banyak hal yang saya lakukan dan saya sukai selama ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.be-samyono.com/2011/10/06/self-coaching-practice/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Spirit Seorang Mooryati Soedibyo</title>
		<link>http://www.be-samyono.com/2011/03/02/spirit-seorang-mooryati-soedibyo/</link>
		<comments>http://www.be-samyono.com/2011/03/02/spirit-seorang-mooryati-soedibyo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Mar 2011 14:46:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>be-samyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business Philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.be-samyono.com/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify; ">Lengser bukan berarti pensiun dari segala kegiatan.  Demikian nada yang disuarakan pemilik brand Mustika Ratu:  Mooryati Soedibyo dihadapan lebih dari 200 orang undangan sore hari ini (02 maret 2011) di acara sharing non formal dengan member TDA.  Bertempat di balairung kediamannya di Jl. Mangunsarkoro Jakarta Pusat Mooryati menunjukkan usia bukanlah penghalang untuk berkegiatan.  Saat menginjak 83 tahun (5 Januari 1928), saat kepemimpinan Mustika Ratu di estafetkan pada putri keduanya - Putri Kuswardhani, Mooryati  melihat saat ini merupakan moment yang tepat bagi beliau untuk mengabdi pada masalah sosial melalui beberapa lembaga perpanjangan tangan dari Lembaga <em>Pendidikan</em> dan Pelatihan <em>Mooryati Soedibyo</em> (LPPMS) yang pada dasarnya mempunyai visi untuk memberdayakan perempuan melalui entrepreneur Indonesia.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Mooryati Sudibyo " src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/001.jpg" alt="" width="450" height="300" /></p>
<p style="text-align: justify; ">Mooryati yang sore itu dibalut hijau tosca tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya.  Tak tampak kelelahan ataupun kemunduran fisik.  Kalimat sharingnya cukup lugas diucapkan dan ingatannya cukup jelas untuk wanita seusianya.  Luar biasa [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify; "><strong><span style="color: #ff0000;">Catatan Sharing Informal Mooryati-TDA</span></strong></p>
<p style="text-align: justify; "><strong><span style="color: #ff6600;">By Be samyono (02032011-20.37)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify; ">
<p style="text-align: justify; ">Lengser bukan berarti pensiun dari segala kegiatan.  Demikian nada yang disuarakan pemilik brand Mustika Ratu: Mooryati Soedibyo dihadapan lebih dari 200 orang undangan sore hari ini (02 maret 2011) di acara sharing non formal dengan member TDA.  Bertempat di balairung kediamannya di Jl. Mangunsarkoro Jakarta Pusat Mooryati menunjukkan usia bukanlah penghalang untuk berkegiatan.  Saat menginjak 83 tahun (5 Januari 1928), saat kepemimpinan Mustika Ratu di estafetkan pada putri keduanya &#8211; Putri Kuswardhani, Mooryati  melihat saat ini merupakan moment yang tepat bagi beliau untuk mengabdi pada masalah sosial melalui beberapa lembaga perpanjangan tangan dari Lembaga <em>Pendidikan</em> dan Pelatihan <em>Mooryati Soedibyo</em> (LPPMS) yang pada dasarnya mempunyai visi untuk memberdayakan perempuan melalui entrepreneur Indonesia.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Mooryati Sudibyo " src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/001.jpg" alt="" width="450" height="300" /></p>
<p style="text-align: justify; ">Mooryati yang sore itu dibalut hijau tosca tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya.  Tak tampak kelelahan ataupun kemunduran fisik.  Kalimat sharingnya cukup lugas diucapkan dan ingatannya cukup jelas untuk wanita seusianya.  Luar biasa.  Ini kekaguman saya yang tidak bisa dihapus.  Meski mengawali usaha di usia yang cukup terlambat namun upaya yang dilakukan Mooryati selama 37 tahun dalam menjalankan usahanya patut untuk diberikan standing applus.  Tidak saja membawa Mustika Ratu satu usaha rumahan menjadi korporasi dan perusahaan terbuka namun juga kiprah kariernya hingga wakil ketua MPR dan pencapaian pendidikannya hingga jenjang doktor bahkan oleh MURI diberi gelar doktor tertua di Indonesia. Pun sederet pretasi lain.</p>
<p style="text-align: justify; ">Kerja keras, selalu bangkit dari keterpurukan dan selalu belajar.  Itu rahasia kesuksesan yang beliau ungkap.  Etos kerja beliau yang tinggi inilah yang mampu membuatnya bertahan disamping jiwa entrepreneurnya yang tak pernah padam dalam menerapkan kreatifitas dan inovasi bagi usahanya.  Beliau mengakui bahwa beliau bukanlah tukang sulap yang bisa mengubah kesuksesan sekejab mata.  Beliaupun menampik bahwa kesuksesannya adalah karena hubungan kekerabatannya dengan keraton Solo.  Kembali kerja keras yang dia garis bawahi.  Dan ini merupakan wejangan di akhir acara yang nampaknya terlalu singkat untuk menggali cerita sukses beliau sore ini.  Tak luput Mooryati membuka peluang untuk berkolaborasi dengan perusahaannya sebagai oleh-oleh.</p>
<p style="text-align: justify; ">Bersama rekan2 TDA Jaksel (Idham, Henry, Siska, Ely, Yudanto, Irwan) nampaknya kekompakan kami tak hanya berada di jalur online saja, sore ini terlihat perwakilan TDA Jaksel amat marak dan kompak.  Begitu acara usai rekan-rekan yang tergabung dalam KMM R2 melanjutkan KMM di rumah pak Ridwan.  Saya beserta pak Henry ikut dalam mobil pak Idham.  Kami memperbincangkan spirit Ibu Mooryati sore ini.  Dan saya memahami. Untuk seperti beliau tidak cukup memberi makanan rohani dan ilmu saja sejak dini tapi fisik perlu juga harus dipersiapkan untuk hari tua. Agar fisik mampu menopang geloranya semangat untuk berbagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.be-samyono.com/2011/03/02/spirit-seorang-mooryati-soedibyo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Promosi Beretika di Dunia Maya</title>
		<link>http://www.be-samyono.com/2009/11/12/promosi-beretika-di-dunia-maya/</link>
		<comments>http://www.be-samyono.com/2009/11/12/promosi-beretika-di-dunia-maya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 09:36:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>be-samyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business Philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.be-samyono.com/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tak disangkal keberadaan internet menjadi satu kemudahan bagi produsen untuk menjangkau konsumennya guna mengkomunikasikan produk.  Tinggalkan era berbudget  tinggi dan tidak langsung menjangkau target market dalam mengirimkan fax, brosur atau surat.  Karena Internet memungkinkan kita  menggunakan email yang tidak  saja memberi kemudahan dan biaya rendah yang diperoleh, namun juga bisalangsung menjangkau sasaran dan penghematan waktu.  Maraknya fenomena Facebook pun  menciptakan media tersendiri bagi produsen untuk menempatkan media promosi di jejaring sosial ini.  Mulai dari hal sederhana untuk memakai accout pribadi  menjadi account bisnis atau produk, menciptakan halaman groups produk hingga mengembangkan fanspage. pasar facebook indonesia yang menempati no 7 didunia  menciptakan populasi tersendiri bagi penetrasi produk.  siapa yang tak tergiur.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="www" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/www.jpg" alt="" width="283" height="235" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sedikit menempatkan diri pada kursi yang berbeda dari kursi Produsen, sebagai konsumen sayapun merasakan manfaat berlebih dari adanya internet ini.  Produk-produk bisa saya cari, dapatkan dan bandingkan dengan cepat secara online.  Pencarian sayapun tak terbatasi oleh wilayah dan waktu lagi.  Bahkan menariknya saya pun bisa memperoleh info mengenai produk dari berbagai testimoni atau pendapat orang melalui forum sehingga demikian jelas bagaimana fitur produk  tersebut bisa memnuhi kebutuhan dan keinginan saya.  Taruh kata: dunia di genggaman saya! [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (12112009-15.20)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tak disangkal keberadaan internet menjadi satu kemudahan bagi produsen untuk menjangkau konsumennya guna mengkomunikasikan produk.  Tinggalkan era berbudget  tinggi dan tidak langsung menjangkau target market dalam mengirimkan fax, brosur atau surat.  Karena Internet memungkinkan kita  menggunakan email yang tidak  saja memberi kemudahan dan biaya rendah yang diperoleh, namun juga bisalangsung menjangkau sasaran dan penghematan waktu.  Maraknya fenomena Facebook pun  menciptakan media tersendiri bagi produsen untuk menempatkan media promosi di jejaring sosial ini.  Mulai dari hal sederhana untuk memakai accout pribadi  menjadi account bisnis atau produk, menciptakan halaman groups produk hingga mengembangkan fanspage. pasar facebook indonesia yang menempati no 7 didunia  menciptakan populasi tersendiri bagi penetrasi produk.  siapa yang tak tergiur.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="www" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/www.jpg" alt="" width="283" height="235" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sedikit menempatkan diri pada kursi yang berbeda dari kursi Produsen, sebagai konsumen sayapun merasakan manfaat berlebih dari adanya internet ini.  Produk-produk bisa saya cari, dapatkan dan bandingkan dengan cepat secara online.  Pencarian sayapun tak terbatasi oleh wilayah dan waktu lagi.  Bahkan menariknya saya pun bisa memperoleh info mengenai produk dari berbagai testimoni atau pendapat orang melalui forum sehingga demikian jelas bagaimana fitur produk  tersebut bisa memnuhi kebutuhan dan keinginan saya.  Taruh kata: dunia di genggaman saya!</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi pernahkah anda mengalami kebanjiran informasi produk yang tidak anda perlukan?  Cepatnya saya memperoleh informasi ternyata dibarengi dengan cepatnya  email atau account yang saya tersebar di dunia maya.  Dan konsekwensipun harus saya terima seperti membanjirnya info produk yang tak saya perlukan yang bisa  dikategorikan sebagai spammer atau hal-hal yang tak menyamankan lainnya.  Tergambarlah beberapa contoh seperti account FB saya `yang di tag di salah satu  produk satu produsen.  Berhari-hari saya dibanjiri notifikasi akibat komen orang lain yang muncul pada photo produk tersebut. Hingga terpaksa saya me-remove  tag saya di photo produk tersebut. Membanjirnya email spam di email saya atau milist groups saya sudah hal yang biasa namun bila tiap email itu hingga 10-50  Mega? terpaksalah saya balas email tersebut dengan permintaan sopan untuk mencabut nama saya dari berpuluh daftar email yang mereka kirimkan. Hingga 5 kali  tidak ditanggapi.  Terakhir dengan terpaksa saya harus menelepon pengirim ersebut untuk dihentikan.  Karena selain Bandwith saya tersedot untuk hal yang   tidak saya butuhkan, trafik email sayapun menjadi terganggu. sebagai warga dunia maya saya sebagai konsumen tahu betul konsekwensi berada di dunia ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Hapus keinginan untuk benar-benar bebas dari spam atau email penawaran.  Karena itu tidak mungkin 1000%.  Hal yang bisa dilakukan hanyalah berkompromi dengan  hal ini.  Menilik hal pengalaman tersebut tentunya produsen harus mendengarkan teriakan konsumen mengenai wabah promosi di internet ini.   Membanjiri konsumen dengan  produk dan cara yang tak tepat justru akan membuat konsumen antipati terhadap produk tersebut bahkan mem-blacklist setiap iklan yang dikirimkan kepadanya.  Contoh sederhana, kita bisa lihat berapa persen promosi yang jatuh ke email kita akan kita tanggapi? Tak ada bukan?.  Promosi beretika hendaknya bisa  melandasi cara-cara produsen untuk berpromosi karena bagaimanapun tentunya keinginan untuk mendapatkan long term relationship amat sangat diharapkan.  Untuk   itu mungkin beberapa rule etika ini bisa menjadi panduan:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Milikilah <span style="color: #ff6600;">&#8220;lapak Sendiri&#8221;</span>.  Lapak online inilah tempat anda menggelar dagangan anda guna mengkomunikasikan apa yang anda miliki dan tawarkan. Di &#8216;lapak&#8217;  ini pula anda perlu memasang fasilitas untuk orang mendaftar dan mengijinkan dirinya anda kirimi email mengenai info-info produk anda. Fasilitas ini nantinya  yang akan bertindak sebagai &#8216;kurir&#8217; untuk setiap email yang anda ingin sampaikan ke daftar pelanggan anda.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Tariklah target market anda ke lapak tersebut dengan cara:</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">a. Berpromosi di situs-situs yang memang khusus diperuntukkan untuk pemasangan iklan.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">b. Berkirim artikel ke beberapa situs-situs penyedia artikel dengan menyertakan alamat &#8216;tempat bisnis&#8217; di dalam resource box.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">c. Bertukar link dengan beberapa lapak bisnis online.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">d. Menuliskan alamat &#8216;Lapak bisnis&#8217; anda di semua tempat atau ruangan yang memungkinkan.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">e. Mengirimkan alamat &#8216;Lapak bisnis&#8217; ke beberapa situs direktori.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">f. Aktif di forum-forum diskusi online. (jangan lupa dengan Signature, dan aturan-aturan forum).&#8217;</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">g. dll.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Hindarkanlah untuk mengirimkan email promosi langsung ke target market tanpa seijin mereka, kecuali anda bisa memfasilitasi promosi anda dengan fasilitas  <span style="color: #ff6600;">UNSUBCRIBE</span> hingga konsumen bisa berhenti dari pengiriman bila mereka tak menghendakinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Prakteknya akan banyak pro dan kontra mengenai bagaimana menyikapi etika berpromosi  karena terkesan tidak pro aktif dibanding puluhan cara berpromosi online  lainnya.  Namun kembali kita harus berfikir logis untuk siapa promosi ini ditujukan.  Bila kepuasan akan kebutuhan konsumen menjadi prioritas dan loyalitas  serta hubungan jangka panjang yang ingin kita bangun, saya rasa kenyamanan konsumen dalam menerima iklan harus jadi prioritas utama.   dan beretika menjadi  hukum yang <span style="color: #ff6600;">WAJIB</span> adanya.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.be-samyono.com/2009/11/12/promosi-beretika-di-dunia-maya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Say No To Facebook?</title>
		<link>http://www.be-samyono.com/2009/11/04/say-no-to-facebook/</link>
		<comments>http://www.be-samyono.com/2009/11/04/say-no-to-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 14:23:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>be-samyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business Philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.be-samyono.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Fenomena jejaring social sedikit banyak bisa kita kata sebagai wabah.  Tak kurang banyak orang menanyakan kepemilikan facebook dalam pergaulan.  Seakan tak afdol bila belum mempunyai <span style="color: #ff6600;">'KTP'</span> di jaringan maya ini.  Semua orang terasa demam untuk berlomba menyosialisasikan dirinya.  Sebagai bentuk dari mikroblogging, facebook dirasa sangat instant dan tepat bagi budaya kita yang suka nimbrung bahkan 'bergosip', dan meluapkan keramahan.  Bentuk yang lebih cepat mendapat reaksi daripada  era blog yang dulu memang sempat mewabah.  Bandingkan dengan blog yang kita harus lebih dahulu melakukan blog walking untuk menyosialisasikan diri bahkan juga untuk memberi komentar.  Namun disini facebook tidak.  Jaringan kita akan segera terbentuk dengan cepat begitu kita terhubung dengan sesama member, secepat komentar pada status yang kita update.  Inilah istantnya.</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Facebook" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/google_facebook1.png" alt="" width="210" height="286" /></p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan beberapa fungsi milist, mini blog, foto &#38; video sharing bahkan agenda telah lengkap menghuni fitur Facebook.  Bagaimana kita tidak tergiur dan tergila gila.  Bahkan semua handphone terbaru belakangan ini tidak menonjolkan kata "akses Internet" untuk menunjukkan fitur internet yang dibenamkan dalam produknya.   Tapi justru kata<span style="color: #ff6600;"> "Bisa Facebook-an!"</span> lebih mempunya daya jual.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (28102009-11.00) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Fenomena jejaring social sedikit banyak bisa kita kata sebagai wabah.  Tak kurang banyak orang menanyakan kepemilikan facebook dalam pergaulan.  Seakan tak afdol bila belum mempunyai <span style="color: #ff6600;">&#8216;KTP&#8217;</span> di jaringan maya ini.  Semua orang terasa demam untuk berlomba menyosialisasikan dirinya.  Sebagai bentuk dari mikroblogging, facebook dirasa sangat instant dan tepat bagi budaya kita yang suka nimbrung bahkan &#8216;bergosip&#8217;, dan meluapkan keramahan.  Bentuk yang lebih cepat mendapat reaksi daripada  era blog yang dulu memang sempat mewabah.  Bandingkan dengan blog yang kita harus lebih dahulu melakukan blog walking untuk menyosialisasikan diri bahkan juga untuk memberi komentar.  Namun disini facebook tidak.  Jaringan kita akan segera terbentuk dengan cepat begitu kita terhubung dengan sesama member, secepat komentar pada status yang kita update.  Inilah istantnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Facebook" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/google_facebook1.png" alt="" width="210" height="286" /></p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan beberapa fungsi milist, mini blog, foto &amp; video sharing bahkan agenda telah lengkap menghuni fitur Facebook.  Bagaimana kita tidak tergiur dan tergila gila.  Bahkan semua handphone terbaru belakangan ini tidak menonjolkan kata &#8220;akses Internet&#8221; untuk menunjukkan fitur internet yang dibenamkan dalam produknya.   Tapi justru kata<span style="color: #ff6600;"> &#8220;Bisa Facebook-an!&#8221;</span> lebih mempunya daya jual.</p>
<p style="text-align: justify;">Belakangan banyak saya dengar rekan-rekan saya ribut-ribut dengan muara masalah pada facebook. Dari masalah kehilangan produktifitas, jauh dari keluarga, boros, kecanduan sampai perselingkuhan.  Ada yang menjauhi facebook sebagai pemecahan masalahnya bahkan ada yang dengan extrem berucap <strong><span style="color: #ff6600;">&#8220;SAY NO TO FACEBOOK&#8221;</span></strong>.  Perlukah?</p>
<p style="text-align: justify;">acebook adalah situs web jejaring sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang lulusan Harvard dan mantan murid Ardsley High School. Keanggotaannya pada awalnya dibatasi untuk siswa dari Harvard College. Dalam dua bulan selanjutnya, keanggotaannya diperluas ke sekolah lain di wilayah Boston (Boston College, Boston University, MIT, Tufts), Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, dan semua sekolah yang termasuk dalam Ivy League. Banyak perguruan tinggi lain yang selanjutnya ditambahkan berturut-turut dalam kurun waktu satu tahun setelah peluncurannya. Akhirnya, orang-orang yang memiliki alamat surat-e [email] suatu universitas (seperti: .edu, .ac, .uk, dll) dari seluruh dunia dapat juga bergabung dengan situs jejaring sosial ini. Selanjutnya dikembangkan pula jaringan untuk sekolah-sekolah tingkat atas dan beberapa perusahaan besar. Sejak 11 September 2006, orang dengan alamat surat-e [email] apa pun dapat mendaftar di Facebook. Pengguna dapat memilih untuk bergabung dengan satu atau lebih jaringan yang tersedia, seperti berdasarkan sekolah, tempat kerja, atau wilayah geografis. Hingga Juli 2007, situs ini memiliki jumlah pengguna terdaftar paling besar di antara situs-situs yang berfokus pada sekolah dengan lebih dari 34 juta anggota aktif yang dimilikinya dari seluruh dunia. Dari September 2006 hingga September 2007, peringkatnya naik dari posisi ke-60 ke posisi ke-7 situs paling banyak dikunjungi,[4] dan merupakan situs nomor satu untuk foto di Amerika Serikat, mengungguli situs publik lain seperti Flickr, dengan 8,5 juta foto dimuat setiap harinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur facebook sebagai salah satu sarana jejaring di satu sisi memberi kita begitu banyak manfaat positif.  Ketemu teman lama, menambah jaringan baru, mendapatkan group diskusi dan sebagainya bahkan menjadi tenar dan narsist.  Namun tak urung sisi lainpun muncul sebagai keresahan.  Facebbook seakan menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh, membuat kita terpeleset dengan tabiat suka membuat status dan komentar &#8220;sampah&#8221; yang tak produktif serta berstatus &#8220;vulgar&#8221; yang mestinya masuk dalam kategori private. Bahkan seringkali kita berdoa pada facebook  daripada menjaga komunikasi kita sendiri pada yang diatas. Apapun itu sah-sah saja bagaimanapun facebook bisa dikata sebagai jejaring social yang mau tak mau semua orang bebas mengekspesikan diri didalamnya.  Sebagian menjadikannya hal serius untuk bisnis , membangun diri  dan sebagian sebagai permainan sekedar melepas penat sesaat.  Dan pada akhirnya kita melihat facebook sama halnya sebagai pisau bermata dua.  Tinggal kita sebagai user untuk bisa mengambil kontrol akan fungsinya.  Akankah kita tetap berpegang pada “men<span style="color: #ff6600;">JAUH</span>kan yang <span style="color: #ff6600;">DEKAT</span> dan men<span style="color: #ff6600;">DEKAT</span>kan yang <span style="color: #ff6600;">JAUH</span>” atau kita ingin “ makin men<span style="color: #ff6600;">DEKAT</span>kan yang <span style="color: #ff6600;">DEKAT</span> juga men<span style="color: #ff6600;">DEKAT</span>kan yang <span style="color: #ff6600;">JAUH</span>”.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kita jeli sebenarnya banyak fitur facebook yang bisa digunakan untuk keperluan bisnis.  Ambil contoh groups dan fanspage yang dikelola dengan baik tentunya akan memompa kinerja usaha kita.  Belum lagi semakin terkaitnya beberapa situs seperti blog, twitter , plurk, dll yang bisa saling berhubungan akan memudahkan kita mengelolanya.  Saya sendiri membuat beberapa groups untuk mengelola komunikasi saya dengan mahasiswa saya ataupun komunitas alumni dan tenis saya yang jelas terasa manfaatnya.   Status yang tak membangun dan komentar yang tak konstruktifpun saya pikir sudah saatnya untuk tidak lagi dilakukan agar lebih bisa mengambil  sisi produktifitas waktu yang saya curahkan untuk bermain facebook.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang mungkin saatnya bagi kita untuk <span style="color: #ff6600;">BIJAK</span> memanfaatkan jejaring social ini sesuai dengan kebutuhan dan fungsi kita. Karena segala sesuatu yang bisa dimanfaatkan secara positif tentunya akan lebih indah resultnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.be-samyono.com/2009/11/04/say-no-to-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perdagangan Manusia, Mengapa?</title>
		<link>http://www.be-samyono.com/2008/08/30/perdagangan-manusia-mengapa/</link>
		<comments>http://www.be-samyono.com/2008/08/30/perdagangan-manusia-mengapa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Aug 2008 17:45:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>be-samyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business Philosophy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.be-samyono.com/bizz/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong> </strong></span>Dalam buku berjudul : Ketika Mereka Dijual “ Perdagangan Perempuan dan Anak di 15 Propinsi di Indonesia, terbitan <strong><em>International Catholic Migration Commision (ICMC)</em></strong> Indonesia dan <em><strong>American Center for International Labor Solidarity (ACILS)</strong></em> dipaparkan berbagai hal hingga timbulnya perdagangan manusia. cukup menarik untuk disimak karena berbagai faktor turut andil hingga praktek seperti ini masih marak terjadi di dunia modern dimana masa perbudakan telah lama dihapuskan. Saya sendiri menyimpulkan Beberapa sebab perdagangan manusia masih terjadi di Indonesia karena:</p>

<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>a.Faktor berkurangnya kesejahteraan masyarakat dan makin menurunnya kemampuan ekonomi:</strong></span>
Menyebabkan satu motivasi untuk keluar dari keadaan dan dorongan untuk memperbaiki nasib di tempat lain.Â  Dan kondisi ini menjadi target utama modus perdagangan manusia.
<span style="color: #ff6600;"><strong>
b.Faktor pendidikan yang masih rendah:</strong></span>
Memberikan kontribusi ketidak trampilan dan ketidak pengetahuan seseorang sehingga membuat mereka tidak bisa berbuat banyak saat mengalami ketidak adilan atau sebagai korban. [.......]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (30082008.00.45)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong> </strong></span>Dalam buku berjudul : Ketika Mereka Dijual “ Perdagangan Perempuan dan Anak di 15 Propinsi di Indonesia, terbitan <strong><em>International Catholic Migration Commision (ICMC)</em></strong> Indonesia dan <em><strong>American Center for International Labor Solidarity (ACILS)</strong></em> dipaparkan berbagai hal hingga timbulnya perdagangan manusia. cukup menarik untuk disimak karena berbagai faktor turut andil hingga praktek seperti ini masih marak terjadi di dunia modern dimana masa perbudakan telah lama dihapuskan. Saya sendiri menyimpulkan Beberapa sebab perdagangan manusia masih terjadi di Indonesia karena:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>a.Faktor berkurangnya kesejahteraan masyarakat dan makin menurunnya kemampuan ekonomi:</strong></span><br />
Menyebabkan satu motivasi untuk keluar dari keadaan dan dorongan untuk memperbaiki nasib di tempat lain.Â  Dan kondisi ini menjadi target utama modus perdagangan manusia.<br />
<span style="color: #ff6600;"><strong><br />
b.Faktor pendidikan yang masih rendah:</strong></span><br />
Memberikan kontribusi ketidak trampilan dan ketidak pengetahuan seseorang sehingga membuat mereka tidak bisa berbuat banyak saat mengalami ketidak adilan atau sebagai korban.<br />
<strong><br />
<span style="color: #ff6600;">c.Faktor Penegakan hukum yang lemah:</span></strong><br />
Memberikan andil ketidakjeraan oknum pelaku untuk terus mempraktekkan modus operandinya disamping di sisi lain tidak memberikan keterpihakan pada korban. Hingga korban memilih diam dan tidak mengangkat persoalan. Perbuatan perdagangan orang hanya dipahami dalam konteks pelacuran sesuai pasal 297 KUH Pidana dan Undang-Undang Perlindungan Anak. Kasus ini menjadi sangat jelas, ketika Indonesia mengikuti definisi kejahatan perdagangan orang berdasarkan definisi yang ditetapkan PBB (Protokol Palermo) yang mengatur tentang definisi, proses, cara dan tujuan yang diasumsikan bagian dari kejahatan perdagangan orang. Bahkan, acuan inilah yang kemudian baru dipergunakan DPR dalam menyusun Rancangan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Indonesia. Jelas merupakan langkah hukum dari pemerintah yang terlambat, karena undang-undang sebagai payung hukum aparatur, terbentuk setelah peristiwa pidana sekian lama telah terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>d.Undang-undang yang tidak tersosialisasi:</strong></span><br />
Undang-undang di lingkup internasional maupun nasional telah banyak yang mengatur mengenai perdagangan manusia, prostitusi, perkawinan antar bangsa juga ketenagakerjaan. Namun dengan ketidaktahuan dan kesadaran akan undang-undang ini membuat modus perdagangan manusia leluasa bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>e.Ketidaktersediaan Data akurat:</strong></span><br />
Data mengenai korban perdagangan manusia, area penyebaran kegiatan-kegiatan yang berpotensi sebagai tempat perdagangan manusia, dan jumlah imigran masih sangat minim sehingga sulit untuk memantau secara signifikan apalagi melakukan satu pengawasan melekat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>f.Keimigrasian yang longgar:</strong></span><br />
Imigrasi sebagai gerbang keluar masuknya penduduk disatu perbatasan sangat longgar dan lemah dalam mengawasi lalulintas manusia sehingga dengan mudah perdagangan manusia berlangsung tanpa pencegahan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>g.Peran PJTKI yang belum maksimal:</strong></span><br />
PJTKI sebagai lembaga yang mengatur penempatan tenaga kerja Indonesia di luar negri sangat tidak meksimal kinerjanya dan disinyalir justru membuahkan praktek-praktek yang menyuburkan modus ini terutama hubungannya dengan yayasan penyalur tenaga kerja.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong><br />
</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.be-samyono.com/2008/08/30/perdagangan-manusia-mengapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penerapan KAIZEN</title>
		<link>http://www.be-samyono.com/2008/08/30/penerapan-kaizen/</link>
		<comments>http://www.be-samyono.com/2008/08/30/penerapan-kaizen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Aug 2008 17:20:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>be-samyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business Philosophy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.be-samyono.com/bizz/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong> </strong></span><strong>Gemba kaizen</strong> adalah satu upaya pendekatan dengan akal sehat  dan biaya yang rendah untuk mengelola tempat kerja.   Dengan komponen utama total quality management, total productive maintenance, management just in time, gugus kendali mutu dan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa prinsip kaizen yang bisa diterapkan adalah:</p>

<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>a. Pelaksanaan 3 aturan dasar Kaizen:</strong></span>
i.  Penataan/5R (Ringkas, rapi, Resik, Rawat &#38; Rajin) guna mengembangkan kedisiplinan karyawan.
ii.  Penghapusan Pemborosan bagi kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah.
iii. Standarisasiguna merumuskan cara baku terbaik dalam melaksanakan tugas.

<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>b.Menerapkan konsep utama kaizen:</strong></span>
i. Menerapkan fungsi perbaikan dan pemelihraan dalam menajemen
ii. Menekankan pola piker berorientasi proses yang harus disempurnakan untuk meningkatkan hasil
iii. Menerapkan siklus PDCA pada perbaikan dan SDCA pada pemeliharaan
iv. Mengedepankan kualitas sebagai prioritas tertinggi
v. Mengumpulkan data sebagai dasar pemecahan masalah
vi. Menerapkan proses berikutnya pada konsumen internal maupun eksternal. [.......]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (30082008.00.45)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong> </strong></span><strong>Gemba kaizen</strong> adalah satu upaya pendekatan dengan akal sehat  dan biaya yang rendah untuk mengelola tempat kerja.   Dengan komponen utama total quality management, total productive maintenance, management just in time, gugus kendali mutu dan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa prinsip kaizen yang bisa diterapkan adalah:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>a. Pelaksanaan 3 aturan dasar Kaizen:</strong></span><br />
i.  Penataan/5R (Ringkas, rapi, Resik, Rawat &amp; Rajin) guna mengembangkan kedisiplinan karyawan.<br />
ii.  Penghapusan Pemborosan bagi kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah.<br />
iii. Standarisasiguna merumuskan cara baku terbaik dalam melaksanakan tugas.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>b.Menerapkan konsep utama kaizen:</strong></span><br />
i. Menerapkan fungsi perbaikan dan pemelihraan dalam menajemen<br />
ii. Menekankan pola piker berorientasi proses yang harus disempurnakan untuk meningkatkan hasil<br />
iii. Menerapkan siklus PDCA pada perbaikan dan SDCA pada pemeliharaan<br />
iv. Mengedepankan kualitas sebagai prioritas tertinggi<br />
v. Mengumpulkan data sebagai dasar pemecahan masalah<br />
vi. Menerapkan proses berikutnya pada konsumen internal maupun eksternal</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>c.Menerapkan Sistem utama kaizen:</strong></span><br />
i. Total quality control, proses pengendalian kinerja untuk mencapai kualitas<br />
ii. Just in time, menghapus segala jenis kegiatan tak bernilai tambah dan mencapai system produksi yang ramping dan luwes dalam menampung fluktuasi dari permintaan dan pesanan konsumen<br />
iii. Total Productive maintenance, memfokuskan pada peningkatan kualitas peralatan<br />
iv. Penjabaran kegiatan perusahaan, untuk memberikan arahan dan sasaran yang focus kepada seluruh level serta memberikan control.<br />
v. Sistem saran, untuk meningkatkan moral serta memperbesar manfaat positif dari partisipatif karyawan.<br />
vi. Kegiatan kelompok kecil, yaitu gugus tugas untuk melakukan tugas secara kelompok spesifik</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong><br />
</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.be-samyono.com/2008/08/30/penerapan-kaizen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hati &#8220;Celestial Management&#8221;</title>
		<link>http://www.be-samyono.com/2008/08/30/hati-celestial-manajemen/</link>
		<comments>http://www.be-samyono.com/2008/08/30/hati-celestial-manajemen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Aug 2008 17:13:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>be-samyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business Philosophy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.be-samyono.com/bizz/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>The Celestial Management</strong>/manajemen langit merupakan satu manajemen yang ditulis oleh anak negri, mendasarkan pemikiran pada penggalian nilai-nilai spiritual sebagai ruh dalam menjalankan bisnis. Dimana perbedaan hakiki dengan manajemen lama adalah adanya pergeseran motivasi duniawi menjadi motivasi ukhrawi. Disini ilmu manajemen tidak lagi diartikan sebagai  <strong>"getting things done through the people" </strong>tetapi <strong>"getting God-wil done by people"</strong>.  Hingga dampak akhir yang diharapkan dengan penerapan manajemen ini adalah perubahan radikal baik dalam proses maupun tujuan akhir bisnis yang menuju God Corporate Governance.</p>
<p style="text-align: justify;">Implementasi Visi manajemen langit di jabarkan dalam <strong>3W (Worship, Wealth &#38; Warfare</strong>) dengan pemaparan sebagai berikut:</p>

<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>Kategori I ( A Place of Worship - ZIKR):</strong></span>
- Zero Base :  Bebas prasangka
- Iman : Berlandaskan keimanan kepada Tuhan
- Konsisten : Fokus pada satu tujuan
- Result Oriented : Berorientasi hasil tanpa mengesampingkan proses [.......]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (18042008.22.45)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>The Celestial Management</strong>/manajemen langit merupakan satu manajemen yang ditulis oleh anak negri, mendasarkan pemikiran pada penggalian nilai-nilai spiritual sebagai ruh dalam menjalankan bisnis. Dimana perbedaan hakiki dengan manajemen lama adalah adanya pergeseran motivasi duniawi menjadi motivasi ukhrawi. Disini ilmu manajemen tidak lagi diartikan sebagai  <strong>&#8220;getting things done through the people&#8221; </strong>tetapi <strong>&#8220;getting God-wil done by people&#8221;</strong>.  Hingga dampak akhir yang diharapkan dengan penerapan manajemen ini adalah perubahan radikal baik dalam proses maupun tujuan akhir bisnis yang menuju God Corporate Governance.</p>
<p style="text-align: justify;">Implementasi Visi manajemen langit di jabarkan dalam <strong>3W (Worship, Wealth &amp; Warfare</strong>) dengan pemaparan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>Kategori I ( A Place of Worship &#8211; ZIKR):</strong></span><br />
- Zero Base :  Bebas prasangka<br />
- Iman : Berlandaskan keimanan kepada Tuhan<br />
- Konsisten : Fokus pada satu tujuan<br />
- Result Oriented : Berorientasi hasil tanpa mengesampingkan proses</p>
<p style="text-align: justify;">Konsep ZIKR beserta atributnya ini diharapkan bisa membawa seseorang menjadi pribadi yang berpotensi unggul mengingat konsep ini tepat diterapkan untuk lingkungan individu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">Kategori II ( A Place of Wealth &#8211; PIKR):</span></strong><br />
- Power : Pendelegasian tugas<br />
- Information ; Penyampaian informasi<br />
- Knowledge : Pengetahuan dan ketrampilan<br />
- Rewards : Imbal balik</p>
<p style="text-align: justify;">Konsep PIKR terterap pada lingkungan kerja team untuk meobilisasi team agar memperoleh keunggulan dan daya saing yang kuat</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>Kategori III ( A Place of Warfare -  MIKR):</strong></span><br />
- Militan : Sikap rela berkorban dalam perjuangan<br />
- Inrelek : Mampu mendayagunakan akal<br />
- Kompetitif :  memiliki keunggulan<br />
- Regeneratif : Tahan lama dan bisa diwariskan</p>
<p style="text-align: justify;">Konsep MIKR merupakan konsep untuk bersaing dengan competitor sehingga dengan menerapkannya akan tercipta satu organisai yang kuat, unggul dan bertahan lama.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong><br />
</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.be-samyono.com/2008/08/30/hati-celestial-manajemen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menciptakan Momentum (Part I)</title>
		<link>http://www.be-samyono.com/2007/08/02/menciptakan-momentum-part-i/</link>
		<comments>http://www.be-samyono.com/2007/08/02/menciptakan-momentum-part-i/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 04:14:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>be-samyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business Philosophy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.be-samyono.com/bizz/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[<span style="color: #ff6600;"><strong>(SWOT Analysis) </strong></span>
<p style="text-align: justify;">Ada yang menarik saat pelaksanaan <span style="color: #ff6600;"><strong>Workshop Ngeblog Sambil Ngebizz</strong></span> yang digelar Blogfam tanggal 28 Juli lalu di Hotel Sofyan Tebet.   Saat sesi motivasi banyak muncul kata "Momentum".  Satu kata penanda "saat yang tepat" untuk memulai langkah terjun ke dunia bisnis.   Tidak saja Yulia dari TDA yang mencetuskan kata itu, tapi beberapa peserta yang sharing pun mentestimonikan bahwa banyak momentum yang mereka dapatkan karena satu kepahitan.   Entah itu ditipu orang, karena krismon, karena bangkrut dan sebagainya.  Karena kepahitan itulah timbul satu tekat untuk menjalankan bisnis sendiri.   Benar dikata bahwa sebenarnya momentum itu adalah kita sendiri yang seharusnya menciptakan.   Karena pada dasarnya banyak kejadian di sekitar kita yang berlangsung dan menunggu dijadikan momentum yang tepat.   Namun kini timbul pertanyaan apakah momentum yang tepat itu adalah selalu peristiwa yang pahit?</p>
<p style="text-align: justify;">Jawabannya tentu saja , <strong><span style="color: #ff6600;">TIDAK!.</span></strong> Bahkan bila anda jeli untuk melihat sekitar anda, idealnya anda bisa memulai suatu bisnis disaat anda masih mampu mendapatkan penghasilan dari sektor non bisnis.  Dengan demikian anda bisa mengisi <span style="color: #ff6600;">"waktu pendapatan jeda" </span>dimana bisnis anda belum menghasilkan return dengan sumber pendapatan non bisnis yang anda tekuni sekarang.   Begitu bisnis tersebut telah besar dan mulai menjanjikan anda bisa menekuni dan melepas pekerjaan non bisnis anda.   Lalu apa yang harus dilakukan untuk memperoleh momentum itu?.  Ciptakan kemauan dan komitmen untuk segera mencari peluang bisnis.   Dan pada nyatanya banyak sekali peluang yang ada di sekitar kita.  Kita hanya perlu untuk memilih dan memilahnya.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be samyono (31072007.17.16)</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>(SWOT Analysis) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang menarik saat pelaksanaan <span style="color: #ff6600;"><strong>Workshop Ngeblog Sambil Ngebizz</strong></span> yang digelar Blogfam tanggal 28 Juli lalu di Hotel Sofyan Tebet.   Saat sesi motivasi banyak muncul kata &#8220;Momentum&#8221;.  Satu kata penanda &#8220;saat yang tepat&#8221; untuk memulai langkah terjun ke dunia bisnis.   Tidak saja Yulia dari TDA yang mencetuskan kata itu, tapi beberapa peserta yang sharing pun mentestimonikan bahwa banyak momentum yang mereka dapatkan karena satu kepahitan.   Entah itu ditipu orang, karena krismon, karena bangkrut dan sebagainya.  Karena kepahitan itulah timbul satu tekat untuk menjalankan bisnis sendiri.   Benar dikata bahwa sebenarnya momentum itu adalah kita sendiri yang seharusnya menciptakan.   Karena pada dasarnya banyak kejadian di sekitar kita yang berlangsung dan menunggu dijadikan momentum yang tepat.   Namun kini timbul pertanyaan apakah momentum yang tepat itu adalah selalu peristiwa yang pahit?</p>
<p style="text-align: justify;">Jawabannya tentu saja , <strong><span style="color: #ff6600;">TIDAK!.</span></strong> Bahkan bila anda jeli untuk melihat sekitar anda, idealnya anda bisa memulai suatu bisnis disaat anda masih mampu mendapatkan penghasilan dari sektor non bisnis.  Dengan demikian anda bisa mengisi <span style="color: #ff6600;">&#8220;waktu pendapatan jeda&#8221; </span>dimana bisnis anda belum menghasilkan return dengan sumber pendapatan non bisnis yang anda tekuni sekarang.   Begitu bisnis tersebut telah besar dan mulai menjanjikan anda bisa menekuni dan melepas pekerjaan non bisnis anda.   Lalu apa yang harus dilakukan untuk memperoleh momentum itu?.  Ciptakan kemauan dan komitmen untuk segera mencari peluang bisnis.   Dan pada nyatanya banyak sekali peluang yang ada di sekitar kita.  Kita hanya perlu untuk memilih dan memilahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div style="text-align: center;"><img id="image17" class="aligncenter" src="http://www.be-samyono.com/bizz/wp-content/uploads/2007/08/swot.thumbnail.jpg" alt="swot.jpg" width="96" height="107" /></div>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Harus kita sadari bahwa kebanyakan dari kita bukanlah berasal dari kelurga bisnis yang sejak kecil terlibat dengan bisnis itu sendiri.  Kalaupun dari keluarga bisnis banyak sekali orang tua yang kurang suka anaknya berbisnis.   Kebanyakan orang tua mendambakan mereka untuk bekerja secara formal di perkantoran.   Hingga kepekaan terhadap bisnis tak banyak ditularkan kepada anak-anak mereka.  Untuk itu kita membutuhkan alat yang membantu kita untuk memudahkan dalam memilih dan memilah bisnis yang tepat kita jalankan.   Dan analisa SWOT adalah alat praktis dan sederhana yang sebenarnya cukup efektif untuk memenuhi kebutuhan itu.   Analisa SWOT tidaklah asing bagi kita.  Kita hanya perlu mempertajam analisa hingga mendapatkan hasil keputusan yang tepat apakah nantinya bisnis yang telah kita analisa tersebut akan kita jalankan atau tidak.   Kunci utama analisa ini adalah akurat atau tidaknya kita memasukkan elemen yang akan dianalisa tersebut.   Semakin akurat akan semakin tepat kita dalam mengambil keputusan.</p>
<p style="text-align: justify;">Menggunakan analisa SWOT tidaklah susah.   Saya seringkali mengajarkan peserta training saya untuk memilah satu kasus yang dianalisis menjadi 2 bagian.   Pertama adalah carilah sebanyak-banyaknya faktor positif yang memungkinkan satu usaha yang dianalisa tersebut bisa memberi/mempunyai kontribusi positif untuk dijalankan.   Dan yang kedua adalah sebaliknya, carilah sebanyak-banyaknya faktor negatif yang memungkinkan satu usaha tidak bisa berjalan atau mempunyai kontribusi negatif.   Setelah itu kita pilah faktor-faktor positif yang telah kita dapatkan menjadi 2 bagian.   Satu bagian adalah faktor-faktor positif yang bisa dikendalikan pengusaha dan bagian lainnya adalah faktor-faktor positif yang tidak bisa dikendalikan oleh pengusaha.   Lakukan hal serupa pada faktor-faktor negatif yang telah anda dapatkan.   Akhirnya kita mempunyai 4 kelompok faktor dan tinggal kita masukkan ke quadran yang ada pada SWOT analisis.</p>
<p style="text-align: justify;">1.   -Faktor-faktor positif    &#8211; bisa dikendalikan  =   KEKUATAN<br />
2.   -Faktor-faktor positif    &#8211; tidak bisa dikendalikan  =   PELUANG<br />
3.   -Faktor-faktor negatif   &#8211; bisa dikendalikan   =   KELEMAHAN<br />
4.   -Faktor-faktor negatif   &#8211; tidak bisa dikendalikan  =   ANCAMAN</p>
<p style="text-align: justify;">Kita tinggal menganalisanya.   Bila banyak faktor yang kita dapatkan berada di quadran KEKUATAN berarti usaha tersebut mempunyai potensi yang bagus tinggal kita KEMBANGKAN. Bila terbanyak di quadran PELUANG maka usaha tersebut mempunyai banyak potensi yang harus lebih banyak DIMANFAATKAN agar menjadi satu kekuatan. Terbanyak di quadran KELEMAHAN tentunya mau tak mau kita harus bekerja extra untuk MENGATASI kelemahan ini untuk jadi satu kekuatan.   Dan bila yang terbanyak di quadran ANCAMAN cukup satu keputusan yang harus anda ambil yaitu HINDARI!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>(bersambung)</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.be-samyono.com/2007/08/02/menciptakan-momentum-part-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haruskah Gratis?</title>
		<link>http://www.be-samyono.com/2007/07/10/haruskah-gratis/</link>
		<comments>http://www.be-samyono.com/2007/07/10/haruskah-gratis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jul 2007 10:16:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>be-samyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business Philosophy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.be-samyono.com/bizz/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">"Mahal sekali?"
Ini bukan komentar pertama yang aku terima di email juga bukan yang ke dua di YM.
"Kok gak gratis saja, kalau gratis Ok-lah buat ikut!"
Kembali aku dapatkan komentar ini yang tentunya bukan yang ketiga.
Aku sama sekali tidak heran!
<p style="text-align: justify;">Tanggal 28 Juli 2007 Blogfam mengadakan <span style="color: #ff6600;"><strong>"WORKSHOP NGEBLOG SAMBIL NGEBIZZ"</strong></span>.   Satu workshop interaktif bagi blogger yang berminat untuk mengembangkan usaha baik sebagai bisnis sampingan ataupun satu pilihan karir dengan menggunakan media blog sebagai media bisnis.   Workshop ini saya lontarkan saat Mbak Elsa salah satu Moderator Blogfam pulang menegok negrinya. Dan didukung temen-teman blogfam dilemparkanlah workshop ini.  Tak ada niatan lain di balik workshop ini selain keinginan untuk memberikan kegiatan positif bagi anggota blogfam untuk bisa memanfaatkan blognya lebih maksimal dan lebih memberikan peluang.   Akan disyukuri bila nyatanya pelatihan ini bisa dibutuhkan anggota sehingga menjadi agenda rutin Blogfam setara dengan agenda Jumpa Penulis Blogfam yang telah beberapa kali tergelar.[........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Sam (04072007.18.07)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mahal sekali?&#8221;<br />
Ini bukan komentar pertama yang aku terima di email juga bukan yang ke dua di YM.<br />
&#8220;Kok gak gratis saja, kalau gratis Ok-lah buat ikut!&#8221;<br />
Kembali aku dapatkan komentar ini yang tentunya bukan yang ketiga.<br />
Aku sama sekali tidak heran!</p>
<p style="text-align: justify;">Tanggal 28 Juli 2007 Blogfam mengadakan <span style="color: #ff6600;"><strong>&#8220;WORKSHOP NGEBLOG SAMBIL NGEBIZZ&#8221;</strong></span>.   Satu workshop interaktif bagi blogger yang berminat untuk mengembangkan usaha baik sebagai bisnis sampingan ataupun satu pilihan karir dengan menggunakan media blog sebagai media bisnis.   Workshop ini saya lontarkan saat Mbak Elsa salah satu Moderator Blogfam pulang menegok negrinya. Dan didukung temen-teman blogfam dilemparkanlah workshop ini.  Tak ada niatan lain di balik workshop ini selain keinginan untuk memberikan kegiatan positif bagi anggota blogfam untuk bisa memanfaatkan blognya lebih maksimal dan lebih memberikan peluang.   Akan disyukuri bila nyatanya pelatihan ini bisa dibutuhkan anggota sehingga menjadi agenda rutin Blogfam setara dengan agenda Jumpa Penulis Blogfam yang telah beberapa kali tergelar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bandrol Rp 150.000 bagi umum dan Rp 130.00 perorang bertempat di Hotel Sofyan ternyata masih menuai komentar MAHAL!   Padahal usut punya usut untuk acara ini para pembicara sama sekali tidak mendapatkan fee.  Kontribusi murni hanya untuk keperluan peserta mulai dari lunch, coffe break, hand out dan venue semata.  Malah beberapa panitia gotong royong memberikan kontribusi dari menyewakan LCD hingga beberapa keperluan lain.  Ini dilakukan agar bandrol kontribusi bisa ditekan dan jauh dari bandrol pelatihan sejenis, padahal bila dilihat materi dan kulitasnya pelatihan ini lebih memberikan nilai.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sama sekali tidak heran.   Beberapa kali saya mengadakan pelatihan serupa dengan berbagai topik.   Baik mandiri maupun berafiliasi dengan sesama rekan konsultan.   Dan sama komentar MAHAL tetap menjadi daftar panjang disamping kata GRATIS!   Bila ditelusur sebenarnya besaran uang fee bukanlah kendala utama   untuk mengikuti satu workshop, tapi justru mindset yang keliru mengenai pelatihan itulah yang selalu membebani.   Mindset yang meletakkan workshop hanyalah satu expense semata, menjadikan satu item pengeluaran dan malah satu pemborosan. Padahal workshop ataupun pelatihan sejenis sama sejajarnya dengan investasi.   Bagi seorang wirausaha pelatihan merupakan investasi skill untuk lebih mendayagunakan dan mengembangkan kemampuan yang ada sekarang hingga bisa mendapatkan perubahan yang berarti.  Demikian juga bagi satu perusahaan pelatihan ini merupakan investasi sumberdaya apapun bidangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saatnya bagi kita untuk berfikir pada hal reatistis.   Jika kita mengikuti pelatihan dengan biaya Rp. 150.000,- maka mindset kita harus berfikir bagaimana pada akhirnya bisa balik modal dengan investasi sebesar Rp 150.000,- itu. Bahkan idealnya bagaimana kita bisa memperoleh lebih dari Rp 150.000,- yang kita tanamkan.   Tentunya dengan pelatihan tidak akan sekaligus kita bisa melihat investasi kita berbunga seketika.   Namun perlu daya dan upaya untuk mengimplementasikannya karena pelatihan tersebut telah memberi &#8220;jalan&#8221; bagi kita.   Keuntungan yang kita peroleh dari suatu pelatihan adalah kita tak perlu lagi untuk berjalan dengan TRY &amp; ERROR, dimana kita telah belajar tidak saja dari kesalahan orang tapi juga keberhasilannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi kenapa harus <span style="color: #ff6600;"><strong>GRATIS</strong></span> bila kita mampu untuk berdiri di kaki kita dan bisa memberdayakan diri kita.   Justru karena benih yang kita tanam itu kita selalu ingat untuk bisa memanennya satu saat nanti.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.be-samyono.com/2007/07/10/haruskah-gratis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serabi Rasa Durian</title>
		<link>http://www.be-samyono.com/2007/05/22/serabi-rasa-durian/</link>
		<comments>http://www.be-samyono.com/2007/05/22/serabi-rasa-durian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2007 08:24:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>be-samyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business Philosophy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.be-samyono.com/bizz/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span lang="DE"> </span></strong><span lang="DE"><span lang="DE">Saya tidak suka durian jangankan rasanya, aromanya saja sudah membuat saya mabok.   Tapi saya suka sekali dengan serabi tidak s</span><span lang="SV">aja rasa dan tekstur kulitnya tapi saya juga suka membuatnya.   Bahkan bisa dikatakan ahli.   Saya putuskan untuk membuat usaha serabi rasa durian karena usaha ini sangat menyenangkan.   Membuat serabi bagai hoby bagai saya sementara rasa durian menjadi pilihan saya, meski saya kurang menyukainya tapi itulah yang di minati oleh konsumen saya.</span></span></p>

<p style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span lang="SV">
<span lang="SV"><span lang="SV">Saya kerap kali menginspirasikan konsep <strong>"serabi rasa durian"</strong> ini bagi rekan-rekan saya yang akan memulai bisnis. Kebingungan seringkali muncul untuk menentukan usaha apa yang tepat untuk dijalani.   Ikut trendkah atau mengikuti kata hati.</span></span></span></span>

<p style="text-align: justify;"><span lang="SV">
<span lang="SV"><span style="color: #ff6600;"><span lang="SV"><strong>BUATLAH SERABI</strong></span></span><span lang="SV"> </span><span lang="SV">
<span lang="SV"><span lang="SV">Bisa dibilang menjalankan usaha yang bersandar dari kesenangan, minat, keahlian atau hoby akan membuat usaha yang kita jalankan menjadi lebih ringan dan menyenangkan.  Tak ada rasa berat saat bersusah payah membangunnya dan tak ada kata lelah kala memikirkan perkembangannya.   Karena kita tak lagi melihat usaha ini hanya sebagai pekerjaan.   Namun sudah ada hidup dan hati kita yang ditaruh di sana, yang membuat semangat kita pantang untuk padam.  Bagaimanapun dalam berwira usaha, diri kitalah yang akan menjadi kaki dan otak jalannya usaha.   Kaki dan otak tak akan terbakar semangat dan hasratnya bila tak dijembatani dengan adanya hati disana.   Tanpa adanya kesenangan yang melandasinya. [.......]</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong><span lang="DE">By Be Samyono (22052006.15.05)</span></strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span lang="DE"> </span></strong><span lang="DE"><span lang="DE">Saya tidak suka durian jangankan rasanya, aromanya saja sudah membuat saya mabok.   Tapi saya suka sekali dengan serabi tidak s</span><span lang="SV">aja rasa dan tekstur kulitnya tapi saya juga suka membuatnya.   Bahkan bisa dikatakan ahli.   Saya putuskan untuk membuat usaha serabi rasa durian karena usaha ini sangat menyenangkan.   Membuat serabi bagai hoby bagai saya sementara rasa durian menjadi pilihan saya, meski saya kurang menyukainya tapi itulah yang di minati oleh konsumen saya.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span lang="SV"><br />
<span lang="SV"><span lang="SV">Saya kerap kali menginspirasikan konsep <strong>&#8220;serabi rasa durian&#8221;</strong> ini bagi rekan-rekan saya yang akan memulai bisnis. Kebingungan seringkali muncul untuk menentukan usaha apa yang tepat untuk dijalani.   Ikut trendkah atau mengikuti kata hati.</span></span></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span lang="SV"><br />
<span lang="SV"><span style="color: #ff6600;"><span lang="SV"><strong>BUATLAH SERABI</strong></span></span><span lang="SV"> </span><span lang="SV"><br />
<span lang="SV"><span lang="SV">Bisa dibilang menjalankan usaha yang bersandar dari kesenangan, minat, keahlian atau hoby akan membuat usaha yang kita jalankan menjadi lebih ringan dan menyenangkan.  Tak ada rasa berat saat bersusah payah membangunnya dan tak ada kata lelah kala memikirkan perkembangannya.   Karena kita tak lagi melihat usaha ini hanya sebagai pekerjaan.   Namun sudah ada hidup dan hati kita yang ditaruh di sana, yang membuat semangat kita pantang untuk padam.  Bagaimanapun dalam berwira usaha, diri kitalah yang akan menjadi kaki dan otak jalannya usaha.   Kaki dan otak tak akan terbakar semangat dan hasratnya bila tak dijembatani dengan adanya hati disana.   Tanpa adanya kesenangan yang melandasinya. </span></span></span></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV"><br />
</span></span><span lang="SV"></span></span><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV">Namun demikian jangan tenggelam dengan kata hati untuk mengejar kesenangan diri semata.   Barang atau jasa yang kita hasilkan melalui usaha ini bukanlah untuk diri kita semata.   Dia harus mendatangkan revenue yang akan membuat usaha ini terus berkembang dan berkesinambungan.   Konsumenlah yang menentukan layak tidaknya satu barang atau jasa mendapat apresiasi di pasar.   Hingga wajar bila pemenuhan akan kebutuhan dan kepuasan mereka akan produk dan jasa menjadi sangat vital.</span></span></span></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV"><br />
<span style="color: #ff6600;"><span lang="SV"><span lang="SV"><strong>TAMBAHKAN DURIAN</strong></span></span></span><span lang="SV"><span lang="SV"><br />
<span lang="SV"><span lang="SV">Anda perlu peka untuk melihat kebutuhan apa yang muncul dari calon konsumen anda.   Konsumen tak akan mungkin untuk memakai produk yang ada hasilkan bila memang mereka tidak membutuhkannya.   Terlebih bila produk itu hanya mengejar kepuasan diri anda untuk memproduksi tanpa bisa melihat kebutuhan pasar. </span></span></span></span></span></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV"></span></span></span><span lang="SV"><span lang="SV"><br />
<span lang="SV"><span lang="SV">Bisa jadi <strong>&#8220;rasa&#8221;</strong> yang akan anda tambahkan ke<strong> &#8220;serabi&#8221;</strong> anda adalah rasa yang tidak anda sukai.   Tapi anda harus sadari bahwa itulah kebutuhan yang muncul di pasaran hingga mau tak mau Anda harus bisa untuk mengkompromikannya secara selaras.   Disatu sisi anda bisa menjalankan usaha melalui kesenangan anda dan disisi lain andapun mampu untuk merebut keinginan pasar.</span></span></span></span></span></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV"></span><span lang="SV"> </span><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV"><br />
</span><span lang="SV"><span lang="SV">Jangan lupa untuk menyuguhkan  <strong>serabi rasa durian </strong> anda dengan cara <strong>unik </strong>yang mampu memberikan identitas pada produk itu hingga konsumen anda selalu bisa mengingatnya dan selalu kembali kepada produk anda.<br />
</span></span></span><span lang="SV"><span lang="SV"><span lang="SV"></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.be-samyono.com/2007/05/22/serabi-rasa-durian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

