Coaching? Perlukah Saya?

Be Samyono [0612201210.39]

Pernahkah anda merasakan bahwa sebenarnya sudah begitu banyak ilmu yang anda punya.  Bukan itu saja, tidak terbilang pelatihan yang anda ikuti,  acara diskusi, sharing bahkan mungkin kunjungan bisnis.  Namun di saat yang bersamaaan anda merasa seakan ada yang kurang sehingga anda tidak bisa mengimplementasikan semua yang anda punya dalam proses bisnis anda.  Entah dengan alasan ilmunya harus disesuaikan dengan bisnis anda dahulu, ilmu tidak sesuai dengan level bisnis anda ataupun begitu banyak ilmu sehingga anda kebingungan sendiri atau urusan klasik tidak adanya waktu.  Ibarat kata, anda mempunyai banyak senjata untuk menembak sasaran anda tapi anda tak tahu harus menggunakan senjata yang mana, bagaimana cara menggunakannya dan apa yang harus anda lakukan kemudian serta sederet pertanyaan lain.  Akhirnya yang terjadi adalah sesuatu yang mudah ditebak.  Anda berjalan kembali tanpa ilmu itu.

Itulah yang awalnya saya pikirkan saat menjadi Mentor di KMB TDA Jakarta Selatan.  Dalam try dan error guna mendapatkan system yang tepat untuk menjalankan program mentoring saya menemukan permasalahan mendasar.  Keragaman bisnis yang ada diantara anggota mentoring, keragaman level bisnis yang ada, juga kebutuhan yang berbeda akan program mentoring ini menjadikaan satu kesimpulan bahwa pendekatan yang heterogen perlu dilakukan.   Agar efektifitas program bisa berjalan dan tiap anggota bisa memperoleh manfaat maksimal untuk bisnisnya.  Beruntungnya ada satu kesamaan yang mereka punyai yaitu mereka sama-sama mempunyai senjata seperti gambaran diatas namun sama sama tidak tahu bagaimana menggunakannya.  Dan Coachinglah saya pikir akan menjadi cara yang tepat guna membantu anggota mentoring mendapatkan solusi terbaik bagi permasalahannya ini.  Metode Coaching inilah yang di beberapa pertemuan terakhir mulai saya terapkan di KMB yang saya bina.  Terlihat sejauh ini efektifitas dalam penyampaian program jelas menunjukkan peningkatan dan perubahan. Disamping itu challenge yang dirasakan oleh anggota secara psikologis akan membuat mereka terpacu untuk mengikuti program ini hingga usai.  Karena tantangan diletakkan di tangan mereka.

APA ITU COACHING & MANFAATNYA? 

Coaching sendiri adalah salah satu pendekatan yang dalam beberapa tahun belakangan ini telah membuktikan keberhasilannya dalam membantu mempercepat transformasi dan pencapaian Goal  baik individu, kelompok maupun organisasi.  Beberapa pemahaman mengenai Coaching mengatakan bahwa Coaching adalah suatu bentuk kemitraan dengan klien dalam proses pemikiran dan kreatifitas yang menginspirasi mereka untuk memaksimalkan potensi mereka baik pribadi maupun profesional (International Coach Federation). Atau suatu kerjasama kolaboratif berdasarkan solution-focusedresults oriented dan systematic process di mana Coach memfasilitasi peningkatan kinerja, pengalaman, kemandirian dan pertumbuhan pribadi sang Coachee /Client (Association for Coaching).

Sederhananya Coaching ibarat pemandu atau pelatih bisnis yang akan membantu memaksimalkan potensi bisnis anda sehingga anda bisa dimampukan secara mandiri dengan mempunyai konsep pemikiran solutif di dalam bisnis.  Seperti halnya kutipan singkat yang pernah saya dengar: “ You  cannot  teach  a  man  anything.  You  can  only  help  him  discover  it  within  himself.  “ – Galileo Galilei –.  Benefitnya bagi coachee atau orang-orangyang mengikuti coaching adalah: Mereka akan bisa meningkatkan dan mencapai tujuan yang diinginkannya secara terfocus dibawah bimbingan orang yang ahli dalam memberikan inspirasi dan motivasi atas potensi yang anda punyai.

Dari hasil penelitian, menurut Chartered Institute of Personnel and Development – CIPD, dinyatakan bahwa :

  • 99% menyatakan Coaching dapat memberikan manfaat yang nyata bagi baik individu dan organisasi.
  • 96% menyatakan Coaching adalah cara yang efektif untuk mempromosikan belajar dalam organisasi
  • 93% menyatakan Coaching dan mentoring adalah mekanisme kunci untuk mentransfer pembelajaran dari program pelatihan kembali ke tempat kerja
  • 92% menyatakan ketika Coaching dikelola secara efektif dapat memiliki dampak positif pada bottom line

 Dari penelitian lain menyatakan bahwa :

  • 92% dari Coachee sangat puas dengan pengalaman Coaching mereka
  • 90% dari Coachee sepakat bahwa Coaching adalah investasi yang baik bagi pribadi dan sumber daya organisasi.
  • 86% dari Coachee sepakat bahwa individu dan organisasi mendapatkan manfaat secara signifikan dari Coaching.
  • Peningkatan Hubungan: 77%
  • Peningkatan Kerja Sama Temm: 67%
  • Peningkatan Kepuasan Kerja: 61%
  • Peningkatan Produktivitas: 53%
  • Peningkatan Kualitas: 48%

(sumber: http://www.nlpcoachindonesia.com)

SUDAH SIAPKAH SAYA DI COACHING? 

Dari paparan diatas jelas besar manfaat adanya coaching dalam hidup ataupun bisnis kita.  Bahkan saya pribadi mengatakan PERLU dalam hidup kita mempunyai Coach untuk bisa melihat blank spot dalam hidup/bisnis yang bisa jadi tak bisa kita lihat sendiri.  Namun pertanyaan besar muncul.  Apakah kita cukup capable dan siap untuk mengikuti coaching?

Di TDA Jakarta Selatan saya mengimplementasikan FREE BUSINESS COACHING setiap minggu sekali.  Tiap minggu 2 orang rekan TDA Jaksel mengikuti program ini dengam mendaftar dan mendapat kesempatan 2x untuk memperoleh sesi coaching bersama saya.  Terdaftar kurang lebih 50 orang telah mengikuti program ini sejak pertama kali saya tawarkan.  Saya melihat hal sederhana bahwa banyak rekan-rekan yang sebenarnya telah cukup ilmu namun kembali mereka tidak tahu bagaimana menggunakannya.  Disinilah peran saya membantu rekan rekan memandu bisnis mereka secara tailor made/disesuaikan dengan permasalahan bisnis mereka.

Dalam catatan saya pada waktu assessment awal akhirnya coach bisa mendeteksi apakah si calon coachee siap untuk di coaching atau tidak.  Bila mereka telah siap maka sesi coaching akan berlanjut. Namun bila belum maka tergantung permasalahan. Bisa jadi akan berlanjut dengan training, mentoring atau  mungkin konseling.  Lalu bagaimana anda tahu keputusan coach akan hal ini? Mudah, salah satu indikatornya  selama anda merasa bahwa amunisi serta senjata anda telah lebih dari cukup itulah artinya anda siap di coaching.  Dan hamper 70% rekan-rekan di Jaksel telah siap untuk di Coaching.

Sejalan dengan pergerakan dunia usaha yang semakin cepat dan semakin kompetitif, untuk memiliki Pelatih Bisnis (Business Coach) bukan lagi menjadi sebuah Kemewahan, melainkan menjadi sebuah Kebutuhan. Lebih dari pada itu, akan sangat sulit untuk mendapatkan jawaban yang benar-benar jujur dan objektif dari diri Anda sendiri. Seorang Pelatih Bisnis akan membantu Anda untuk membuat tujuan jangka pendek dan jangka panjang berikut dengan strateginya serta meningkatkan usaha Anda di area yang mungkin tidak terpikirkan oleh Anda.

Continue Reading

Self Coaching Practice

By Be Samyono [05092011-10.56]

Tak dipungkiri beberapa kali tercatat ketidak konsistenan merambah pada penulisan blog ini semenjak dibuat.  Alasan klasik, sibuk. Dan alasan yang tak dapat ditolerir adalah kemalasan.  Sementara kebosanan menjadi alasan yang menggantung menginat tulis menulis adalah sebuah passion bagi saya.  Saya tak ingin mencari kambing hitam.  Selain menerimanya sebagai siklus kesadaran saya dipalingkan pada tujuan saya membangun blog ini.  Bukan untuk popularitas.  Menulis adalah wujud lain dari pembelajaran kedisiplinan buat saya.  Bila ujungnya demikian maka saat kurva semangat itu menurun tak ada yang lebih baik kecuali menyadarkan diri dan bersemangat untuk berjalan di garis tujuan.

Mungkin pertanyaaan yang terbesar bukan lagi kenapa fluktuasi dalam menulis terjadi. Namun kini lebih pada Bagaimana agar konsistensi dalam menulis terjaga.  Saya orang yang cukup procedural dan saya yakin bukan hal yang sulit bagi saya untuk membuat jadwal menuliskan prioritas bahkan sekaligus menjalankannya. Namun saya rasa bukan disitu permasalahannya.

Beberapa waktu belakangan ini saya dihadapkan pada masa didepan saya.  Target, keinginan, rencana baru dan segudang hal-hal yang ingin saya lakukan sebelumnya.  Saat saya melangkah ternyata saya diharuskan menoleh.  Dibelakang begitu banyak hal-hal lama yang justru menjadi ganjalan.  Pekerjaan yang belum terselesaikan, ilmu yang tak lagi terasah dan diimplementasikan, hal-hal kecil yang belum sempurna dan segala macam belenggu lain yang harus diurai.  Ujungnya mudah ditebak.  Saya kehabisan waktu untuk menyelesaikan itu semua.  Saya juga tidak punya tenaga untuk melakukan banyak hal baru lagi.  Seakan semua pekerjaan seperti bilangan yang harus diberi pangkat dan sebesar itulah beban saya.

Bila ada kalkulator yang mampu menghitung hal ini dan menghasilkan output kinerja saya yakin bahwa hal yang terjadi ini sangatlah tidak efisien.  Terlebih bila saya tidak membarenginya dengan kerja keras dan efektif.  Bisa ditebak bagaimana tidak bergunanya apa yang saya lakukan dalam hidup ini.  Saya tidak menginginkan ini.

Dalam ilmu manajemen waktu jelas bahwa membuat prioritas pekerjaan amatlah penting dan menjadi kunci.  Namun bila melihat kasus ini bisa terlihat bahwa semua prioritas bagi saya.  Ini jalan buntunya.  Coba kita urai, bila saya masih mempunyai banyak prioritas tentunya ada yang tidak benar dalam hal ini.  Bisa jadi saya menuju ke tempat yang saling berbeda dengan keinginan mencapainya secara maksimal.  Sehingga bisa ditebak konsentrasi saya menjadi terbelah.  Pelan namun pasti saya seakan menemukan Jawabnya. Saya kehilangan FOKUS! Inilah masalah yang sebenarnya.

*****

Saya terkejut!  Ternyata saya mampu untuk mengcoach diri saya sendiri.  Menemukan jawab atas permasalahan saya.  Membiarkan pertanyaan mengalir dan mencari jawab di setiap kemungkinan.  Coaching sendiri merupakan satu proses meningkatkan kinerja atau memecahkan permasalahan.  Saat baris  pertama tulisan ini saya goreskan saya tidak menyangka akan ada ending yang merupakan solusi.  Mungkin anda bisa mencoba cara yang telah saya lakukan atau bila permasalahan anda hampir sama dengan yang saya hadapi anda tak usah repot.  Kita telah sama sama menemukan Jawaban atas permasalahan realnya. Toss!  PR sekarang adalah bagaimana saya berusaha untuk focus J.  Saya rasa ini bukan hal yang mudah.  Dimana saya harus melepas banyak hal yang saya lakukan dan saya sukai selama ini.

Continue Reading