Be Samyono : Kisah Doktor Yang Mempunyai Bisnis Photocopy

Be Samyono [03012015.12.12]

Adalah Be Samyono yang akrab dipanggil Sam, memulai usaha pertamanya,  MR COPY “layanan total dan profesional untuk solusi dokumen anda”. Usaha yang bergerak di bidang photocopy, percetakan dan stationery yang dimulai pada tanggal 1 oktober 1998 di komplek Metropolitan Jl Jend sudirman Jakarta (2 outlet), Cabang kedua dibuka pada 1 Agustus 2000 di Komplek BRI di jalan yang sama.  Layanan untuk segmen yang berbeda dengan nama MAESTROGRAPH “layanan bermutu dan terjangkau untuk solusi dokumen anda” dibuka di daerah kembangan dan tanjung duren pada tanggal 25 April 2005, 1 Maret 2007 dan terakhir 20 April 2012.  Doktor lulusan Universitas Negeri Jakarta ini, juga menjalani usaha Training Provider: SSA CONSULTING yang menyediakan jasa pelatihan, konsultasi, dan coaching dalam bidang bisnis, manajemen, perbankan serta kewirausahaan pada tanggal 11 april 2000.

Latar belakang keluarga yang bukan dari keluarga bisnis semula menjauhkan pikirannya untuk menyentuh area bisnis. Sebagai seorang arsitek, pekerjaan pertamanya adalah menjadi seorang arsitek pada pengembang perumahan tepi pantai di Surabaya. PT JAWA NUSA WAHANA anak perusahaan JAWA POS. Masa kerja 4 tahun tidak juga menyadarkan diri saya akan kata bisnis hingga masa resesi ekonomi terjadi di tahun 1998. Perusahaan yang berada dalam sektor properti terpuruk beberapa pengetatan dan strategi usaha baru diterapkan oleh DAHLAN ISKAN. Salah satunya adalah mengelola promosi perusahaan secara mandiri tanpa melalui agency. Secara pribadi DAHLAN ISKAN menunjuk Sam dan membawanya ke Graha Pena untuk mendalami grafic design di perusahaan induk JAWA POS. Dan Sam dipercaya untuk mengelola materi promosi above the line di media cetak. Disinilah kompetensinya terbentuk mulai membantu kakak mengembangankan usaha photocopy baru di Jakarta melalui beberapa pekerjaan yang bisa di support dari Surabaya.

Akhir tahun 2009 Sam yang mempunyai hobbi melukis dan tenis ini, resign untuk melanjutkan S2 di Jogjakarta dengan alasan bahwa pekerjaan sebelumnya tidak lagi memberi tantangan selain pemikiran untuk memperoleh kesempatan pekerjaan yang lebih baik bila ia telah memperoleh gelar lebih tiinggi dan kondisi ekonomi membaik. Bahkan saat itu keinginan bisnis secara serius masih belum muncul di benaknya. Hingga begitu kuliah usai dan ia mencoba menetap di Jakarta untuk mencari pekerjaan. Dan satu hal yang tidak bisa habis ia pikir bahwa dengan kompetensi dan gelar yang dimilikinya tak ada satu pekerjaanpun yang bisa ia dapatkan. Momentum kecil ia dapatkan. Sam mengutarakan bahwa : “Mengapa saya harus bergantung pada orang lain untuk satu pekerjaan bila saya mampu menciptakannya terlebih telah ada MR COPY sebagai motor penggerak bagi saya”.

Tak dipungkiri fluktuasi kondisi usaha adalah hal yang pasti terjadi. Hal inipun terjadi di MR COPY, usaha ini sangat rentan terhadap fluktuasi ekonomi mengingat customernya kebanyakan adalah perusahaan multinasional. Suatu ketika ia merasa tekanan kondisi sangatlah besar. Ia berpikir panjang untuk menentukan kelangsungan usaha MR COPY. Sam berasumsi bahwa tak ada efek buruk baginya untuk melepas usaha ini. Usaha profesinya masih berjalan dan memberi support dan ia akan dengan mudah untuk mendapatkan pekerjaan bila kondisi semakin memburuk. Dalam renungan yang panjang Sam tiba di akhir bulan dimana kewajibannya harus dipenuhi untuk membayar gaji karyawan yang saat itu masih berjumlah 7 orang.

Hari yang sangat berat, itu seakan menjadi ringan saat ia mendengar kata “alhamdullilah, terima kasih” yang terucap dari mulut karyawan-karyawannya.   Ia menyadari bahwa gaji yang ia beri ke satu orang adalah satu harapan bagi banyak orang dalam keluarga mereka. Ia pikir tidak benar bila MR COPY telah mendapat amanah sebagai salah satu support kelangsungan hidup bagi keluarga karyawannya  justru akan iaa tutup. Justru disaat seperti ini harusnya menjadi satu kekuatan baginya untuk terus memberikan yang terbaik bagi kelangsungan bisnis hingga memberi dampak yang lebih bermanfaat bagi karyawan dan keluarganya. Momen inilah yang selalu ia ingat untuk tetap bertahan di bisnis ini.

Sam yang juga aktif mengajar sebagai dosen di universitas ini, lebih lanjut mengingatkan bahwa bisnis adalah satu proses juga sebagai satu pilihan. Sebagai satu proses bisnis tidak hanya berhenti pada satu keinginan dan motivasi untuk berbisnis, namun harus di realisasikannya pada kemampuan diri untuk selalu menerapkan kreatifitas dan inovasi yang mau tidak mau tidak boleh berhenti. Dan perkembangan bisnis akan berkembang bila didukung oleh usaha yang tak henti untuk selalu mengasah kemampuan manajerial di semua aspek bisnis yang diperlukan. Dan diakhir proses adalah mengembangkan satu kemampuan kepemimpinan untuk memberi arahan yang tepat kemana bisnis yang akan dikembangkan menuju dan dikendalikan.

Dan sebagai pilihan bisnis bisa kita bentuk dan fungsikan sesuai pilihan kita. Landasan spiritual yang ia pilih untuk menjalankan bisnis sejak mula telah memberi identitas dan cara bisnis yang tidak saja memberi manfaat pada pribadinya namun juga benefit lebih dan beragam bagi karyawan dan berbagai pihak. Kembali maksimalisasi value hidup melalui bisnis akan didapatkan melalui proses dan pilihan ini.

Mr. Copy merupakan usaha yang bergerak di bidang layanan photocopy pada mulanya yang didirikan 1 Oktober 1998 ditengah kecemasan akan kondisi krisis ekonomi yang berlanjut dan kelabilan akan kelangsungan pekerjaan tetap kami sebagai pendirinya. Semula Mr. Copy merupakan usaha sampingan yang nantinya akan jadi naungan bila situasi terburuk terjadi. Bisnis photocopy ia pilih karena melihat prospeknya yang cukup menjanjikan dan merupakan salah satu kebutuhan primer untuk perkantoran. Maka dipilihlah lokasi di salah satu gedung di jalan Sudirman dan tenant-tenant di blok-blok perkantoran itu sendiri sebagai target pasarnya. Sam berikut kakaknya sebagai partner leader dari proyek ini melihat peluang dan ceruk pasar yang prospektif yang belum digarap dalam bisnis photocopy. Meski banyak kesangsian akan bisnis ini terlebih berkenaan dengan lokasi di gedung dimana biaya sewa dalam bentuk dollar yang fluktuatif, namun keyakinan menjadi pendorong yang besar untuk merealisasikannya.

Outlet pertama dibuka di gedung WTC metropolitan. Dengan hanya menempatkan 2 mesin photocopy canon modal sendiri, 1 karyawan terlatih serta 1 asistennya di ruang sewa 24 M2, Mr. Copy – WTC mulai berjalan. Cost terbesar adalah untuk investasi tempat. Dalam waktu satu setengah tahun Mr. Copy WTC berkembang pesat. Divisi sationerypun dibuka dengan outlet terpisah. Sam pun berinisiatif untuk menambah investasi dengan membuka 2 outlet baru di Gedung BII Thamrin serta Gedung BRI Sudirman di tahun-tahun depan. Namun perkembangan kedua outlet tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan seperti halnya outlet pertama. Mr. Copy – BII ditutup setahun kemudian dengan masalah mendasar kesalahan dalam memilih lokasi dan Mr. Copy – BRI tetap dipertahankan dengan subsidi Mr. Copy – WTC. Pertengahan 2001, secara penuh ia pindah ke Jakarta dan mengambil alih pengelolaan MR Copy – BRI. Memilih bisnis ini untuk 100% ia jalani. Usaha yang selama ini lebih banyak di percayakan pada karyawan, lebih di kelola secara profesinal layaknya satu perusahaan.

Kestabilan Mr. Copy Bri tercapai tahun 2003. Diversifikasi layananpun mulai dikembangkan untuk menjadikan Mr Copy sebagai BUSINESS CENTER yang integrated. Di tahun 2004 bersamaan dengan dibukanya outlet baru dibawah brand yang beda -Maestrograph, kami melakukan beberapa perubahan budaya organisasi dan inovasi diantaranya memayungi diversifikasi usaha dalam naungan 1 manajemen PusatPhotocopy.Com. Strategi dan tujuan bisnis makin di perjelas dengan mulai memantapkan manajemen dalam perusahaan, memberdayakan karyawan, mengimplementasikan sistem dan teknologi juga mulai melakukan kerjasama dan pembentukan citra keluar perusahaan. Sampai sekarang PusatPhotocopy.Com telah mempunyai keunggulan dibeberapa layanan one stop solution yang terangkum dalam www.pusatphotocopy.com, membawahi 17 tenaga kerja, 3 outlet Mr Copy dengan pangsa pasar blok-blok perkantoran di pusat kota dan 3 outlet Maestrograph dengan pangsa pasar kantor, sekolah dan kampus. Kedepan PusatPhotocopy.Com merencanakan untuk menambah outletnya dan memantapkan brand awareness di industrinya.

NOTE:

Tulisan ini disadur : UKM Sukses

Continue Reading

INTRADE Malaysia & KLITF 2012 (4-Tamat)

Be Samyono [2501201311.15]

Hari ke 3.  Serasa lebih lega dan santai mengingat puncak kegiatan telah dilalui kemarin dan saya tidak ada appointment khusus dengan beberapa seller.  Agenda hari ini adalah menghadiri Kuala Lumpur International Trade Forum – KLITF 2012.  Terlihat beberapa delegasi telah meninggalkan KL tanpa mengikuti agenda ini. Termasuk beberapa rekan dari Indonesiapun tidak menghadirinya. Bertempat di Auditorium Matrade  tempat pembukaan INTRADE kemarin KLIFT dilaksanakan.  Terlihat 500 delegasi hadir dan kebanyakan peserta adalah warga Malaysia dari berbagai perusahaaan dan instansi pemerintahan.

 

Sepintas tak ada yang istimewa gelaran ini.  Event seperti ini di Indonesia banyak diadakan dan lebih hebat pelaksanaaan acaranya.  Namun acara ini nampak lebih luar biasa dimata saya karena tidak adanya jam karet ataupun molornya waktu kegiatan.  Entah itu karena pidato berkepanjangan, pembicaraaan tak sesuai porsi atau menunggu pejabat.  Tidak ada!  Bahkan terlihat semua pengisi acara cukup taat untuk menempatkan perannya dalam koridor waktu yang tepat.  Saya cukup terkesima.  Dengan mengangkat tema: “Overcoming Challenges, Enhancing Growth”, KLITF dibuka oleh YBhg. Dato’ Mah Siew Keong, Ketua Malaysia Eksternal Perdagangan Pengembangan Corporation MATRADE. Tepat pukul 09.45.  Lebih syahdunya setiap event lagu dan klip kebangsaan Mereka selalu diputar dan dinyanyikan.

Enam orang pembicara telah siap dalam 2 sessi.  Sessi pertama digawangi oleh moderator:  MR. Harmandar Singh, Presiden Asosiasi Periklanan Internasional (IAA) Malaysia.  Tiga Pembicara dihadirkan secara bergiliran dalam satu setengah jam diantaranya: Jason Lo, Chief Executive Officer, Tune Bicara Sdn Bhd yang memaparkan “Revolutionising Teknologi Mobile”- strategi Air asia menjembatani bisnis maskapai dan hotel dengan menggunakan Tune Talk.  Pembicara kedua adalah: Geoffroy de Drouas, General Manager, Business Development, BONIA Corporation Berhad yang jeli memaparkan bagaimana strategi Bonia menggunakan nama dan rasa Italia untuk produknya dalam  “Global BONIA ini Ekspansi Bisnis” dan terakhir mengetengahkan: Ian Cruddas Direktur Operasi, GCH Retail (M) Sdn Bhd  yang membongkar strategi Giant Malaysia.

Tepat satu setengah jam kemudian sessi ke 2 berjalan dengan moderator: Eric Chong Pendiri, Education Group Erican & Presiden, Branding Asosiasi Malaysia (BAM).  Pembicara yang mendapat giliran adalah Yeap Swee Chuan,  Ketua, Chief Executive Officer & President, AAPICO Hitech Public Co Ltd yang berbicara mengenai “Keberlanjutan Industri Otomotif di ASEAN” disusul Fadzarudin Anuar, Managing Director, Fashion Valet Sdn Bhd yang mengetengahkan konsep “Bagaimana It All Began” dan ditutup oleh Designer sepatu kenamaan Dato ‘Lewre Lew. Executive Chairman, Lewre International Sdn Bhd yang memperbincangkan perjalanan bisnisnya.

Tak disangkal bahwa semua pembicara mempunyai kapabilitas dan kinerja yang menunjukkan kesuksesan di setiap bisnisnya.  Semua memberi inspirasi di setiap sudutnya.  Saya cukup terkesan dengan ide kreatif dari talk tune yang cukup jeli melihat peluang pasar yang dibangunnya.  Lewre memberikan inspirasi bagaimana passion harus menempel pada bisnis dan Yeap Swee Chuan member semangat akan kebangkitan pabrik otomotif yang kandas karena banjir di Bangkok.  Selebihnya beberapa inspirasi yang saya catat adalah:

    • Bangunlah bisnis dengan satu model bisnis dalam satu mind mapping yang tepat sehingga kita bisa memberikan scenario terhadap bisnis tersebut
    • Bangunlah portofolio di semua lini bisnis dengan core bisnis mula sebagai main corenya.
    • Bedakan antara membangun bisnis dan membangun brand
    • Gunakan technologi sebagai basis karena ini merupakan future bisnis
    • Kerjakan bisnis dengan passion dan andalkan diri anda sendiri.

Tak terasa event 3 jam berlalu, satu pembelajaran yang tak ternilai melihat event 3 hari ini berlangsung dengan menyenangkan.  Saya melihat sebagai penyelenggara event international bangsa kita jauh melampaui kemampuan dalam penyelenggaraan.  Kita hanya perlu belajar melakukan eksekusi secara detail dan bersikap professional dalam penyelenggaraannya.   Kami keluar dari Convention Hall dan dijamu makanan ringan di selasar.  Event exhibition masih berlangsung demikian juga masih banyak waktu yang bisa dipakai buyer bila mereka ada janji temu dengan seller.  Saya pikir apa yang saya dapatkan lebih dari cukup.  Dan segera saya berkemas diri untuk kembali ke hotel.

Pukul 14.00 bus yang membawa kami ke hotel telah bersiap.  Perlu waktu lama untuk menunggu Bus penuh karena beberapa delegasi masih menemui buyer di Matrade.  Saya sendiri lebih memilih untuk pulang awal daripada terjebak macet bila menginjak sore.  Dan keputusan ini paling tidak bisa meredam keterkejutan saya begitu sampai Hotel.

Bagaimana tidak ternyata kamar hotel tidak bisa dibuka.  Saya yakin sekali bila di Lock karena masalah waktu stay yang bermasalah antara panitia Jakarta dan KL.  Meski semalam telah memperoleh keputusan bahwa kami bisa diperpanjang tinggal satu hari lagi namun siang ini membuktikan hal yang berlawanan.  Meskipun saat saya urus permasalahan ini cepat diselesaikan namun saya sendiri merasa tak nyaman dengan perlakuan ini.  Bayangkan bahwa kamar di lock tanpa pemberitahuan sementara semua barang masih terdapat didalamnya.  Alhasil kalaupun bisa dibuka saya jelas tidak mendapat fasilitas service seperti hari sebelumnya seperti toiletries, minum dan room cleaning.  Cukup dongkol yang coba saya obati dengan mengexplore KL. Menjelajah public transportation yang tersedia.  Beruntung saya telah beberapa kali mengunjungi KL sehingga cukup familiar dengan beberapa tempat.

Sebelumnya saya membook hotel Furama di bukit bintang untuk extent esok hari.  Bertemu dengan kawan-kawan lama disini menjadi ending yang terbaik bagi perjalanan yang mengesankan selama 3 hari ini.  Akhir lawatan saya hanya punya satu kesimpulan bahwa: UKM kita sudah cukup maju dan hebat produksinya.  Satu kekurangan mereka – PERCAYA DIRI! Itu sepertinya pekerjaan rumah yang mesti digarap!

Continue Reading
1 2 3 18