Horisontal ataukah Vertikal?

Pertemuan KMM 5 TDA Jaksel (10032010)
By Be Samyono (17032010-22.25)

Kehadiran Pak Taufan yang lama menghilang dari KMM 5 terobati hari ini, beliau datang hampir bersamaaan dengan saya yang datang kepagian. Pertemuan yang sedianya bertempat di pizza hut TIS Square Tebet ternyata harus dipindahkan ke Citrus Cafe begitu kami lengkap berlima hanya karena kami sama-sama tak terbiasa dengan lidah Italia. Pak Idham sebagai leader in charge hari ini membuka pertemuan dengan diskusi mengenai arah pengembangan suatu bisnis secara vertikal maupun horisontal.  Pak Hario, Pak hendra, Pak taufan dan sayapun segera saling bersahut untuk mendiskusikannya.

Bisa ditebak kami dalam berbisnis lebih banyak melakukan strategi vertical saat pengembangan usaha diperlukan.  Strategi bisnis dari hulu ke hilir dirasa paling tepat bagi pengembangan bisnis mengingat resiko yang kecil karena bisnis bersandar pada core competensi mula yang sudah berjalan dan teruji.  Disamping itupun pemanfaatan sumber daya dan faktor faktor produksi yang telah ada bisa dimaksimalkan.  Taruh contoh usaha photocopy saya yang mulai merambah ke bisnis percetakan, ATK, training provider hingga photografi yang memanfaatkan dan memaksimalkan faktor-faktor produksi yang selama ini ada di bisnis photocopy.

Manfaat Strategi Vertikal:

  1. Meningkatkan koordinasi rantai persediaan.
  2. Sediakan lebih banyak kesempatan untuk membedakan dengan cara mengendalikan peningkatan input.
  3. Capture hulu atau hilir margin keuntungan.
  4. Meningkatkan hambatan masuk ke pesaing potensial
  5. Mendapatkan akses ke saluran distribusi hilir yang sebaliknya akan dapat diakses.
  6. Memfasilitasi investasi dalam aset yang sangat khusus di mana pemain hulu hilir atau mungkin enggan untuk berinvestasi.
  7. Mengakibatkan perluasan kompetensi inti.

Strategi perkembangan bisnis horisontal lebih menitik beratkan pada upaya diVersifikasi.  Utamanya untuk mengantisipasi resiko bila kita berbisnis di keranjang yang sama.  Perlu upaya keras dan kompetensi lebih dalam membuka bisnis diluar core competensi yang ada selama ini.  Pastinya resiko akan menjadi lebih besar demikian juga dengan modal yang diperlukan.  Bisa saja core competensi saya ada di bidang percetakan namun saya tak menutup kemungkinan untuk bisnis properti atau restoran.  Pun ketika saya berinvestasi pada saham atau reksadana.  Karena dengan mengetahui karakter masing-masing bisnis kita bisa memperkirakan sumber konstan yang bisa kita dapatkan guna mengantisipasi fluktuasi satu bidang bisnis.

Manfaat strategi horisontal:

  1. Survival (mempertahankan hidup).
  2. Mendorong pertumbuhan prospek.
  3. Memperluas ke pasar yang baru.
  4. Mempererat genggaman pada pasar.

Kelemahan Strategi Diversifikasi:

  1. Memang diversifikasi dapat meletakkan anda pada jalan yang cepat untuk pertumbuhan, namun sebaliknya bila gagal
  2. Dengan memperluas rentang produk anda dan bahkan perputaran produk anda meningkat, maka biaya-biayanya juga meningkat dan hal ini dapat pula berakibat menurunkan profit anda.
  3. Dengan memperluas ke pasar yang baru, maka bahaya yang muncul pada target pelanggan yang baru belum tentu anda ketahui. Untuk itu diperlukan suatu riset sebelum melakukan diversifikasi.
  4. Untuk melakukan diversifikasi diperlukan orang yang benar-benar menguasai karakteristik bisnis tiap-tiap produk anda.

catatan penting pertemuan ini adalah:  kita tidak disarankan untuk mempertimbangkan diversifikasi hingga bisnis inti yang ada stabil dan menguntungkan.

Continue Reading

Proyek Bisnis 1 (UAI-Genap 2010)

Universitas Al Azhar Indonesia
By Be Samyono (10032010-22.26)

Mata kuliah Proyek Bisnis 1 merupakan matakuliah yang diberikan pada semester 4 dengan beban 4 SKS pada konsentrasi pemasaran dan kewirausahaan UAI.  Bahasan dalam matakuliah ini menitik beratkan pada pembekalan bagi mahasiswa untuk bisa merencanakan start up bisnis, motivasi bisnis serta berbagai paparan mengenai praktek bisnis secara real.  Sementara itu hasil akhir yang ingin diperoleh adalah:

1.  Mahasiswa mampu untuk merintis suatu usaha mulai dari proses perencanaan hingga realisasi bisnis.
2.  Mahasiswa mampu dan peka untuk merencanakan mimpi bisnisnya menjadi realitas melalui proses-proses yang terstruktur dan comprehensive.
3.  Mahasiswa mampu untuk melihat peluang baik secara internal maupun ekternal dirinya dalam berbisani
4.  Mahasiswa mampu untuk meneruskan bisnis hingga jenjang PB 2.

Referensi yang digunakan:

1.  Awakening the entrepreneur within – Michael  E Gerber
2.  The Portable MBA in Entrepreneurship – William D. Bygrave
3.  Jangan Takut memulai Bisnis – Richie Indrajaya

Materi Perkuliahan:

1.  Sillabi PB1
2.  Preface PB1 dan Perincian Proyek
3.  Aspek Entrepreneur & Dream
4.  Memilih dan mengevaluasi Ide Bisnis
5.  Membangun Visi & Misi Bisnis
6.  Perencanaan Bisnis
7.  Membangun Pasar
8.  Aspek Kompetensi & Strategi Bersaing
9.  Aspek Jaringan
10  Peluang dan resiko Bisnis
11  Aspek Modal dan sumber permodalan

Note: Mahasiswa bisa mendowload materi di atas dengan mengirimkan email kepada dosen pengampu

Continue Reading