Keamanan & Kenyamanan, Haruskah Kontra?

By Sam (27062007.10.34)

Seharusnya patut dikeluhkan.   Dan saya pun patut mengeluh.   Dampak dari aksi terorisme bukanlah sekedar dampak perih yang disandang oleh keluarga korban bom Mariot, bom Bali, Kerusuhan Poso atau berbagai kejadian memprihatinkan lainnya.   Dampak itu telah merembes bagai air yang tak dapat dicegah.   Ambil hitungan.   Travel warning pernah diterapkan beberapa negara bagi warganya yang akan mengunjungi negara kita, dampaknya sektor pariwisata terpukul dan terkapar.   Keberadaan saudara-saudara kita diluar mulai diintimidasi, dampaknya nama kita tercoreng dalam pergaulan sosial dunia.   Bahkan kitapun sudah tidak nyaman lagi untuk mengunjungi tempat-tempat publik dan perkantoran karena harus rela untuk “digeledah”! Tak terbayang bukan bahwa korelasi tindakan akan sedemikian menglobal dan merambah semua sektor.

Wokshop kerja saya bertempat di publick space sebuah gedung yang tiap kali masuk harus melewati gerbang pemeriksaan baik itu untuk pejalan kaki maupun yang berkendaraan.   Penjagaan yang sebelumnya hanya mengamati kini sudah diwajibkan untuk menggeledah meski kadang hanya di longok semenjak aksi terorisme mewabah beberapa tahun lalu.   Jauh dalam hati saya memaklumi keadaan ini. toh hasilnyapun untuk kepentingan bersama dan saya masih bersyukur beberapa konsumen saya yang berada di luar komplek gedung masih loyal untuk mampir.   Kebetulan sekali lokasi komplek gedung itu merupakan penghubung antara jalan Benhill dengan jalan jendral Sudirman. Ramai tentunya. Namun keadaan ini tidak bisa bertahan lama.   Makin maraknya aksi terorisme membuat pihak gedung mulai meninggikan pagar, memperketat akses dan mengubah arus masuk pengunjung.   Akibatnya arus penjalan kaki yang dulu melewati depan workshop saya terkena dampak “beralih” karena dipindahnya pintu masuk komplek gedung. Lebih parahnya pihak manajemen gedung tidak berfikir bahwa pemindahan ini mempunyai akibat ganda.   Bagi penyewa publik space merupakan satu kerugian karena pengunjung dari luar gedung makin sedikit mampir karena konsumen dari luar gedung harus memutar untuk menjangkaunya tak sedikit yang akhirnya kehilangan konsumen.   Dan bagi pengunjung gedung perubahan arah ini tidak logis karena justru menjauhi titik keramaian dan halte padahal ada pintu yang lebih dekat dengan area itu, akibatnya mereka harus memutar.   Tak jarang pengunjung tiap hari harus bersitegang dengan satpam karena kebanyakan pengunjung masih berusaha untuk lewat akses terdekat yang lebih cepat.

Pada manajemen gedungpun Saya telah layangkan beberapa keluhan lewat email dan surat tertulis bahkan saya sertakan denah alternatif terbaik untuk akses masuk.   Dan jawaban pihak manajemen gedung sekan tak bisa ditawar karena bagi mereka KEAMANAN DAN KENYAMANAN tidak bisa berjalan seiring! Saya lumayan kegi karena bagi saya tak ada istilah tidak ada solusi untuk satu masalah. Tapi nyatanya hal ini memang tidak ada satu solusi karena pihak manajemen menutup kesempatan untuk kompromi.   Kembali saya harus bilang untuk belajar pada beberapa pihak yang bisa mengatasi masalah keamanan ini dengan satu kenyamanan tanpa mengorbankan pengunjung, penyewa atau malahan berdampak luas seperti memacetkan arus jalan.  Hotel Le meridien bisa diambil contoh.   Standarisasi “penggeledahan” cukup tepat dan bagus derta tidak terkesan main-main.   Kenyamanan pengunjungpun tetep terjaga.  Disediakan 2 gate dengan letak strategis.   Dan bila di tilik lagi masih banyak tempet-tempat publik serupa yang bisa dibuat contoh dan diteladani.   Karena bagaimanapun sinergi antara pengunjung, penyewa gedung dan pihak manajemen gedung sangatlah diperlukan.   Bila perlu ketutuhan ultimate masing-masing pihak harus diletakkan sejajar jangan diadu hingga yang satu mesti kalah dengan yang lain.  Terlebih ada istilah VS atau kontra.   Kepincangan satu pihak akan merugikan pihak lain secara keseluruhan sebenarnya.

Setelah hampir satu tahun, awal minggu kemarin pihak manajemen memberikan edaran untuk kembali pada akses lama sesuai usulan saya.   saya takkan menepuk dada mengatakan bahwa usulan saya diterima dan dilaksanakan.  Tapi saya akan segera memaklumi bahwa pihak manajemen telah BANYAK BELAJAR! Semoga yang dipelajari tidak sekedar pengalihan akses semata namun lebih dalam bisa memahami bahwa sinergi kepentingan antara pengunjung, penyewa dan manajemen tidak bisa diabaikan!

Continue Reading

Kampanye Call & Copy!

By Be Samyono (20062007.15.01)

Belajarlah dari pepsodent meski telah menguasai market namun tetap tak lelah mengguyur benak konsumen dengan keberadaan dan inovasinya melalui iklan.   Juga belajarlah dari Mie sedap yang merasa dirinya sebagai new comer hingga tak berputus asa untuk menggebrak pasar dengan beragam komunikasi agar dirinya dikenal dan diterima masyarakat.   Hasilnya pepsodent masih terus dipandang sebagai merek yang establish dan mie sedap mampu merong-rong pangsa pasar indofood dari 90%-nan menjadi angka 75%-an.

Itulah yang sekarang dikerjakan oleh MR. Copy.   Usaha photo copy & percetakan dengan pangsa pasar menengah atas dan kalangan bisnis karena letaknya yang berada di komplek perkantoran ini, mulai menggeliat dari rutinitas yang sudah dijalani mulai tahun 1998.  Kampanye Program Cal & Coppy diluncurkan bulan Juli 2007 ini.   Beberapa media komunikasi digunakan antara lain, brosur, email dan website.   hingga jangan kaget bila menemui promonya:

Call & Copy

Mr. Copy*

memberikan kemudahan bagi anda untuk penanganan dokumen-dokumen Anda.
Melalui promo “CALL & COPY”,
kami akan segera MENGAMBIL dan MENGANTARKAN kembali dokumen Anda
begitu Anda menghubungi Hotline kami.

Kini kemudahan layanan Mr. Copy ada dalam ujung jari Anda.

HOTLINE:

* (Area layanan segitiga emas Jakarta)
MR. Copy WTC : (62-21) 521 1661
PIC Slamet/Zaenal

MR. Copy BRI : (62-21) 98 521 512, 98 521 512
PIC Iwan/Anto

*Syarat & Kondisi: (minimal pembelian Rp. 100.000)

Tak ingin timpang dengan sekedar mengkomunikasikan satu kampanye di media.   Mr. Copy juga membenahi dirinya dengan service skill bagi crewnya plus serentak menyeragamkan pelayanan sekaligus atribut masing-masing outlet. Meningkatkan kinerja dan pelayanan bagi konsumennya.   Hingga diharapkan kampanye ini tak hanya sekedar berteriak semata tapi juga membuat satu langkah baru yang tepat hingga gaung satu kampanye bisa lebih bergaung dan menggema. Tujuan akhirnya tak lain kembali agar pembelajaran yang diajarkan pepsodent dan mie sedap bisa membuahkan hasil yang sama meski tak perlu memakai cara-cara yang sama!

Continue Reading