Menghadapi Permasalahan Bisnis

Pertemuan KMM 5 TDA Jaksel (17022010)
By Be Samyono (17032010-22.00)

Lima Rekan telah berkumpul disaat saya menjadi yang terakhir yang datang.  Menghindari 3in1 ternyata membawa saya harus melalui rute panjang untuk mencapai Pejaten Village tempat kami KMM 5 mengadakan pertemuan hari ini.  Times menjadi pilihan kami kali ini  dan sayalah yang menjadi Leader in Charge.  Saya lihat Pak Idham, Pak hendra, Pak Syamsul, Pak Haryo dan Pak Khidir telah nyaman berada di sofa panjang di tengah void mall ini.   Sepertinya kami salah memilih tempat karena tempat ini lumayan berada di tengah lobby dan sangat mencolok hampir menyerupai panggung talk show.  Namun itu bukan masalah yang besar karena lima menit kemudian kami telah seru membahas topik hari ini berupa MENGHADAPI PERMASALAHAN BISNIS tanpa terganggu suasana sekelilingnya.

Satu hal yang mencengangkan ternyata permasalahan bisnis kali ini lebih banyak menyorot mengenai permasalahan yang ditimbulkan oleh partner bisnis.  Tidak saja dalam hal operasional namun juga masalah relationship dengan partner.  Dan pembicaraan mengerucut pada mengatasi permasalahan bila bermasalah dengan partner bisnis.  Yang mengejutkan hampir semua rekan KMM5 pernah menghadapi masalah dengan partner bisnisnya utamanya.  Mulai dari kasus ditipu, dikhianati bahkan perselisihan yang seringkali merugikan baik secara moral maupun material.   Tak tanggung tanggung justru hal ini terjadi pada orang yang sangat dekat dan amat kita percaya.  Satu hal yang wajar bila pada akhirnya permasalahan ini membuat kita mengalami kejatuhan mental yang berpengaruh pada kinerja bisnis.  Teman-teman mengamini satu kesimpulan bersama bahwa apapun kejadiannya jangan sampai hal ini menjatuhkan mental berbisnis.  Anggaplah bahwa kerugian ini semua adalah satu sedekah.  Karena akan lebih positif bila kita segera mencari ganti akan kerugian ini daripada memfokuskan diri dengan merenungi kerugian yang terjadi.

Beberapa tips yang bisa dijadikan acuan dalam berkolaborasi partner Bisnis dalam bernetworking adalah:

  • Usahakan memperoleh partner yang mempunyai kesesuaian Visi dan Misi dengan bisnis Anda JANGAN sebaliknya.
  • Ikatlah kerjasama yang penting dengan memperhatikan aspek Hukum
  • Pikirkan peluang-peluang yang bisa dipetik dalam masa datang dalam kerjasama yang dilakukan sekarang
  • Bila terlibat dalam networking berpartisipasilah semaksimal mungkin JANGAN menunggu.
  • Kontrol dan evaluasi keterlibatan bisnis anda dalam networking agar tetap memperoleh manfaat

Bila permasalahan dalam bisnis muncul maka problem solving ala ALBERT EINSTEIN berikut bisa diterapkan:

  1. Rephrase the problem: Me-rephrase persoalan akan membuat pola berpikir menjadi lebih akurat dan berdayaguna.
  2. Expose and challenge assumptions: Menguji asumsi akan membuat pola berpikir menjadi lebih jernih dan terarah.
  3. Chunk up: Chunking up akan membuat persoalan menjadi jelas duduk perkaranya.
  4. Chunk down: Chunking down akan membuat persoalan menjadi lebih spesifik dan pada saat yang sama akan membuat diri kita bisa merasa lebih besar dari persoalan.
  5. Find multiple perspectives: Mengambil multi persepsi akan membuat persoalan menjadi lebih terfokus dan pada saat yang sama akan sangat membantu agar berbagai kemungkinan solusi tidak berdampak menciptakan persoalan baru atau memperberat suatu persoalan yang lain.
  6. Use effective language constructs: Aspek pilihan bahasa dan kata-kata sangat berpengaruh terhadap bagaimana suatu persoalan akan ditindaklanjuti dan dikelola. Lebih jauh lagi, aspek bahasa dan kata-kata sangat berpengaruh pada tinggi rendahnya tingkat stamina kita dalam menindaklanjuti dan mengelola persoalan.
  7. Make it engaging: Buatlah persoalan menjadi menarik, karena kita akan menghabiskan sejumlah energi dan waktu dalam menghadapi persoalan. Jika persoalan menarik, maka energi dan waktu yang digunakan akan tergantikan dengan efisien dan menguatkan.
  8. Reverse the problem: Salah satu trik untuk keluar dari persoalan dengan segera, adalah dengan menjungkirbalikkan persoalan. Jika kita ingin menang, cari tahu apa yang akan membuat kita kalah. Jika kita ingin besar, temukan apa yang membuat kita kecil. Jika kita ingin berhasil, selidiki apa yang akan membuat kita gagal.
  9. Kumpulkan fakta-fakta: Persoalan harus jelas dan detil. Jangan sampai, sesuatu yang bukan persoalan malah kita anggap persoalan, atau suatu persoalan muncul dengan kabur dan samar-samar.

Di dalam kata “problem” ada suku kata “pro”. Dalam bahasa latin, “pro” berarti “positif”  atau “berpihak”. Jika kita punya masalah, maka ia sebenarnya positif dan berpihak kepada kita. Ingatlah lagi berbagai masalah dan persoalan yang berhasil kita selesaikan, pasti selalu berdampak positif  dan makin membesarkan kita.

Continue Reading

Ketika Pendidikan Menjadi Satu Kemewahan

By Be Samyono (02022010-23.53)

Bukan kata yang mendramatisir bila kini saya katakan bahwa pendidikan menjadi satu barang mewah di negeri ini yang berusaha digapai oleh banyak orang tua murid. Untuk bisa bersekolah bermutu, kepandaian saja tidaklah cukup dimiliki seorang siswa, perlu limpahan materi untuk bisa “ditukar” dengan ilmu yang dia inginkan. Hingga timbul pertanyaan, bagaimana posisi siswa tak pandai dan miskin. Tersingkirkan?. Pendidikan adalah hak anak negri untuk memperolehnya, dan bila negara mampu mendidik anak negeri dengan system pengajaran yang tepat dan terjangkau. Tak terkira limpahan human capital yang kita punyai dan tak terkira kesejahteraan yang bakal kita nikmati. Namun sayangnya itu masih mimpi, kenyataannya dunia pendidikan masih mendiskriminasikan mereka yang tak mampu baik secara finacial ataupun kepandaian. komersialisasi pendidikan tidak saja melahirkan generasi yang timpang tapi juga pendegradasian moral yang akut.

Saya setuju dengan tulisan rekan Wahyu B. Hanggono, seorang pengamat pendidikan Indonesia yang tajam mengatakan “fakta bahwa pendidikan di Indonesia masih terpaku pada birokrasi, legalisasi dan indoktrinasi program dan kurikulum. anak-anak diarahkan menjadi produk yang sama, potensi dan jiwa anak sama sekali tidak dihargai. Ibarat kata sistem pendidikan di indonesia hanya bertujuan untuk mengasah pisau tajam bukannya berusaha menjadikan bijih besimenjadi aneka perkakas yang berguna.” Jelasnya pendidikan di Indonesia hanya bisa memproses bahan baku dengan kualitas tertentu menjadi suatu barang dan mereject bahan baku yang tidak sesuai standart menjadi rongsokan atau tepatnya “sampah masyarakat”.

Satu yang menarik bila dikatakan bahwa hendaknya pendidikan dasar (SD-SMP) lebih ditekankan pada pendidikan ketauhidan, akhlak, pengembangan pribadi dan potensi anak. Hingga pendidikan dasar ini bisa menjadi penggemblengan sikap dasar yang memang harus dimiliki seorang anak hingga dapat beradaptasi dengan lingkungannya sesuai dengan potensi dan keunikannya. untuk itu penilaian deskriptif/naratif amat mutlak diberikan daripada penilaian angka di dalam rapotnya. Nantinya baru dalam pendidikan lanjutan penajaman skill bisa diarahkan secara tepat dan dinilai sesuai sdtandart keahliannya.

Saya teringat dengan satu perumpamaan. Ibarat dalam sebuah hutan yang dihuni oleh berbagai macam hewan. Mestinya pendidikan dasar di hutan diarahkan untuk mendidik sikap dasar binatang yang ada di hutan agar mampu beradaptasi sesuai dengan keunikannya. Seperti bertahan hidup, beregenerasi dan sebagainya. Bukannya di ajar untuk bisa menguasai keahlian yang sama karena pada dasarnya mereka punya potensi yang berbeda dan keunikan tersendiri. Pada gilirannya potensi serta keunikan inilah yang akan menentukan mereka untuk bisa memasuki pendidikan lanjutannya. Burung akan belajar terbang dan ikanpun akan belajar berenang. Hingga jelas disini tak ada satu niatan untuk menyingkirkan si bodoh atau menjadikan semua pribadi sebagai produk yang sama.

Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya. Hendaklah untuk saling memolong dan menutupi kekurangan bagi sesama. Jangan biarkan carut marut pendidikan negri ini makin membarutkan luka yang semakin bernanah. Karena kemiskinan dan kebodohan di negri ini berawal dari keengganan si kaya untuk berbagi harta dan si pintar untuk berbagi ilmu.

(Pic: Koran Tempo)

Continue Reading