Ketika Pendidikan Menjadi Satu Kemewahan

By Be Samyono (02022010-23.53)

Bukan kata yang mendramatisir bila kini saya katakan bahwa pendidikan menjadi satu barang mewah di negeri ini yang berusaha digapai oleh banyak orang tua murid. Untuk bisa bersekolah bermutu, kepandaian saja tidaklah cukup dimiliki seorang siswa, perlu limpahan materi untuk bisa “ditukar” dengan ilmu yang dia inginkan. Hingga timbul pertanyaan, bagaimana posisi siswa tak pandai dan miskin. Tersingkirkan?. Pendidikan adalah hak anak negri untuk memperolehnya, dan bila negara mampu mendidik anak negeri dengan system pengajaran yang tepat dan terjangkau. Tak terkira limpahan human capital yang kita punyai dan tak terkira kesejahteraan yang bakal kita nikmati. Namun sayangnya itu masih mimpi, kenyataannya dunia pendidikan masih mendiskriminasikan mereka yang tak mampu baik secara finacial ataupun kepandaian. komersialisasi pendidikan tidak saja melahirkan generasi yang timpang tapi juga pendegradasian moral yang akut.

Saya setuju dengan tulisan rekan Wahyu B. Hanggono, seorang pengamat pendidikan Indonesia yang tajam mengatakan “fakta bahwa pendidikan di Indonesia masih terpaku pada birokrasi, legalisasi dan indoktrinasi program dan kurikulum. anak-anak diarahkan menjadi produk yang sama, potensi dan jiwa anak sama sekali tidak dihargai. Ibarat kata sistem pendidikan di indonesia hanya bertujuan untuk mengasah pisau tajam bukannya berusaha menjadikan bijih besimenjadi aneka perkakas yang berguna.” Jelasnya pendidikan di Indonesia hanya bisa memproses bahan baku dengan kualitas tertentu menjadi suatu barang dan mereject bahan baku yang tidak sesuai standart menjadi rongsokan atau tepatnya “sampah masyarakat”.

Satu yang menarik bila dikatakan bahwa hendaknya pendidikan dasar (SD-SMP) lebih ditekankan pada pendidikan ketauhidan, akhlak, pengembangan pribadi dan potensi anak. Hingga pendidikan dasar ini bisa menjadi penggemblengan sikap dasar yang memang harus dimiliki seorang anak hingga dapat beradaptasi dengan lingkungannya sesuai dengan potensi dan keunikannya. untuk itu penilaian deskriptif/naratif amat mutlak diberikan daripada penilaian angka di dalam rapotnya. Nantinya baru dalam pendidikan lanjutan penajaman skill bisa diarahkan secara tepat dan dinilai sesuai sdtandart keahliannya.

Saya teringat dengan satu perumpamaan. Ibarat dalam sebuah hutan yang dihuni oleh berbagai macam hewan. Mestinya pendidikan dasar di hutan diarahkan untuk mendidik sikap dasar binatang yang ada di hutan agar mampu beradaptasi sesuai dengan keunikannya. Seperti bertahan hidup, beregenerasi dan sebagainya. Bukannya di ajar untuk bisa menguasai keahlian yang sama karena pada dasarnya mereka punya potensi yang berbeda dan keunikan tersendiri. Pada gilirannya potensi serta keunikan inilah yang akan menentukan mereka untuk bisa memasuki pendidikan lanjutannya. Burung akan belajar terbang dan ikanpun akan belajar berenang. Hingga jelas disini tak ada satu niatan untuk menyingkirkan si bodoh atau menjadikan semua pribadi sebagai produk yang sama.

Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya. Hendaklah untuk saling memolong dan menutupi kekurangan bagi sesama. Jangan biarkan carut marut pendidikan negri ini makin membarutkan luka yang semakin bernanah. Karena kemiskinan dan kebodohan di negri ini berawal dari keengganan si kaya untuk berbagi harta dan si pintar untuk berbagi ilmu.

(Pic: Koran Tempo)

Facebooktwitterredditpinterestmail

You may also like

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


six − 3 =