PB2 UAI Business Launching #1 – 2009

By Be Samyono (23082009-13.19)

Pada tahun 2006, data Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan di Indonesia terdapat 48,9 juta usaha kecil dan menengah (UKM), menyerap 80% tenaga kerja serta menyumbang 62% dari PDB (di luar migas). Data tersebut sekilas memberikan gambaran betapa besarnya aktivitas kewirausahaan di Indonesia dan dampaknya bagi kemajuan ekonomi bangsa.

images

Terlebih lagi ditambahkan dengan data hasil penelitian dari Global Entrepreneurship Monitor (GEM) yang menunjukkan bahwa pada tahun yang sama, di Indonesia terdapat 19,3 % penduduk berusia 18-64 tahun yang terlibat dalam pengembangkan bisnis baru. Ini merupakan yang tertinggi kedua di Asia setelah Philipina (20,4%) dan di atas China (16,2) serta Singapura (4,9%). Pakar kewirausahaan, David McClelland mengatakan bahwa jika 2% saja penduduk sebuah negara terlibat aktif dalam kewirausahaan, maka dapat dipastikan bahwa negara tersebut akan sejahtera. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Profesor Edward Lazear dari Stanford University yang mengatakan bahwa wirausahawan adalah pelaku paling penting dari kegiatan ekonomi modern saat ini.

Universitas Al azhar Indonesia dalam usianya yang masih baru ternyata mampu memberikan peran bagi  berkembangan kewirausahaan di Indonesia.  Hal ini dibuktikan dengan dibukanya Konsentrasi Kewirausahaan pada jurusan Ekonomi manajemen. Bukan itu saja, dengan semangat “Entreprising University” Universitas Al Azhar Indonesia juga meletakkan semangat kewirausahaan ini dalam salah satu butir misinya selain pada penerapan tujuh elemen dasarnya. Pada hakekatnya Universitas Al Azhar Indonesia sangat mendukung dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami berbagai aspek kewirausahaan sebagai dasar dan bekal membangun naluri kewirausahaan.  Konsentrasi Kewirausahaan sendiri dirancang agar dapat mencetak lulusan yang dapat menciptakan lapangan kerja sendiri mulai dari merencanakan sebuah usaha, merealisasikan rencana usaha yang dibuat, mengelola usaha sampai menjadi wirausaha yang sukses. Salah satu mata kuliah unggulan untuk melakukan implementasi dan praktek bisnis adalah Proyek Bisnis. Proyek bisnis terdiri dari dua mata kuliah. Berbeda dengan Proyek bisnis 1 yang penekanannya pada start up business. Proyek Bisnis 2 lebih diarahkan pada pengembangan bisnis berikut penerapan strateginya. Pada Semester genap tahun ajaran ini Proyek Bisnis 2 merupakan matakuliah baru bagi angkatan konsentrasi kewirausahaan yang pertama. Tercatat 7 mahasiswa aktif mengikuti perkuliahan dan telah dilahirkan 6 usaha mandiri yang meliputi usaha video shooting, warnet, garmen, butik, cuci mobil serta cafe. Selama 1 semester mereka ditempa dengan matakuliah yang mempunyai proporsi 70% praktek dan 30% teori melalui:

Diagnosa bisnis : materi perkuliahan untuk mendiagnosa dan mencari pemecahan masalah yang dihadapi dalam usaha yang dijalankan

Manajemen Strategi : materi perkuliahan untuk melakukan scanning terhadap bisnis dan bisnis plan melalui analisaSWOT sehingga diperoleh strategi yangtepat untuk diimplementasikan

Keuangan Bisnis : materi perkuliahan mengenai strategi investasi dan pengelolaan keunagn usaha

Kunjungan bisnis : Kunjungan terhadap bisnis yang dijalankan oleh mahasiswa

Action Plan : Perumusan komitment dalan bentuk action plan sebagai guiding setelah lulus matakuliah proyek bisnis

Puncaknya tanggal 29 Juli 2009 bertempat di ruang theater UAI, 7 mahasiswa angkatan pertama konsentrasi kewirausahaan ini menggelar Business Lauching #1.  Acara yang menampilkan soft lauching bisnis yang mereka bangun dikemas dalam bentuk pemutaran film profile bisnis. Acara ini dihadiri segenap keluarga fakultas ekonomi UAI berikut Dekan Fakultas Ekonomi Prof. Sayuti Hasibuan. Juga gelaran pameran kewirausahaan di lobby UAI selama sepekan. Besar harapan gelaran acara ini mampu memberikan informasi serta aspirasi akan keberadaan konsentrasi kewirausahaan bagi segenap sivitas academika UAI. Selamat!

Continue Reading

Flash Flash Flash #2 Sambooks

By Be Samyono (21092009-18.08)

Kembali bersama 43 rekan dari Blogfam kami menerbitkan buku hajatan “Flash Flash Flash ~ Kumpulan Cerita Sekilas”. Dipayungi Penerbit Gradien Jogja buku ini mengangka t berbagai tema dengan batasan kata 126-216 kata tiap ceritanya! Unik. Nantikan Terbitnya Desember ini. Berikut 2 ceritaku yang termuat dengan mengangkat tema “perempuan” dan berikut 2 cerita saya yang termuat:

FlashFlashFlash

Bedebah…!

Bedebah…!

Umpatku berulang. Bukan mauku bila Oom Besar lebih sayang dan memanjakanku daripada anak-anak murtadnya atau kacung-kacung penjilatnya. Bukan pula inginku bila aku lebih bisa berpeluk mesra dan tidur bersama dalam belai kehangatan meski Oom Besar mulai tua dan makin terkapar tak berdaya.

Bedebah…! Makiku tak henti.

Berhentilah untuk memanggilku pelacur jalanan, perempuan murahan atau si mata duitan. Karena aku tak menjual diriku dan juga tidak menggadaikan kehormatanku. Aku hanya membagi gemulai dan kemanjaan untuk sesuap makanan.

Bedebah…!

Kutukku menyeletuk. Teganya kalian membekapku saat lelapku dan mengikatku saat Oom besar sekarat. Nyata sudah, bulat niat kalian untuk menuntaskan dendam. Menyingkirkanku dari kemewahan. Lalu kini sudah 1 jam perjalanan kalian membawaku pergi.

“Bedebah enyahlah!” Umpat kalian penuh kesumat.

“Meooong…!” Lolongku penuh kesakitan menahan kerasnya benturan saat tubuhku dilemparkan. Terkaparku penuh memar.

(num of words: 138)

Hati Kardus Bunga Ranjang

Aku bertanya apakah hatiku terbuat dari seonggok kardus. Lembab dan hanyut begitu hujan membasah. Kering dan terbakar saat api memercik. Kardus yang membungkus ketidakdayaku.Nasibku dipahat dengan kasar. Belumlah mekar kelopakku saat ku dipetik paksa dari rantingku. Diambil dari daun yang menaungiku untuk dijadikan penghias ranjang malam. Hiasan yang tidak di hargai dengan belaian namun ditebar untuk hasrat sesaat guna membuang hajat.

“Dar, cinta itu apa?” Tanyaku seketika.

Darmi sepertinya tuli. Matanya masih menatap kaca memulaskan bedak tebal disela kerut halusnya. Badannya bergoyang mengikuti rentak dangdut yang riang memanggil pelanggan. Sesaat Darmi menggeleng, meletakkan gincu merahnya menghampiriku.

“Dengar, tak ada istilah cinta bagi lonte macam kita. Cinta bagi kita adalah uang dan bagi mereka adalah kepuasan. Kita jualan. Orang jualan tak tahu apa itu cinta. Ngerti!”

Aku mengangguk tanpa paham. Malam kemarin, malam ini juga nanti aku tetaplah bunga ranjang. Yang di taruh di kamar kamar sempit seadanya di salah satu dari sekian puluhan rumah remang di daerah bejat ini. Aromaku semerbak menggoda lelaki untuk datang. Mereka bukanlah kumbang tapi sekumpulan lalat. Mereka tidak menyerbukkan sariku tapi mematuknya lalu menyelipkan lembar rupiah di kutang-kutangku. Mungkin benar mereka tak tahu apa itu cinta. Mereka hanya membeli. Mengambil lebih dari apa yang semestinya tak ku beri.

Kembali kusadari hatiku hanyalah seonggok kardus yang tak mampu membungkus KEHORMATANKU sendiri.

(Num of words: 216)

Continue Reading