Hubungan Industrial dalam Ridho

By Be Samyono (08102009-22.23)

Ramadhan minggu kedua, bisa jadi merupakan waktu yang ditunggu para karyawan menjelang lebaran. Apalagi kalau bukan mengacu pada pembagian THR. Dibalik semangat menyambut hari Fitri tak dapat dipungkiri Lebaran merupakan perayaan extra yang dibarengi dengan pengeluaran yang extra pula. Terlebih bila ditambah dengan kebutuhan akan mudik. Pengeluaranpun akan bertambah extra dengan biaya transportasi mudik plus buah tangan, yang mau tak mau sudah menjadi satu kewajiban. Untuk itulah THR sangat mutlak menjadi bagaian yang harus ada bagi mereka. Sebaliknya bagi pengusaha, bisa jadi moment ini adalah moment pengeluaran ekstra. Karena pengusaha diharuskan memberikan ‘gaji ke 13 bagi karyawannya sesuai dengan peraturan menteri tenaga kerja.

Kondisi ini juga menjadi ritual yang jamak di Mr Copy. Sejak keberadaan Mr Copy sebagai usaha saya 11 tahun yang lalu suasana ini tidaklah pernah berubah. Kebutuhan karyawan sudah menjadi hal mutlak untuk pemenuhan THR ini. Bahkan bukan itu saja, karena sebagian besar karyawan berasal dari Jawa dengan keluarga berada di Jawa maka mudikpun menjadi satu keharusan. Dan rentetannya akhirnya adalah bertambahnya jadwal libur karyawan menjadi 2 kali lipat dari waktu seminggu yang ditetapkan. Sebagai pengusahapun saya tak bisa berbuat banyak karena ini sudah menjadi satu budaya industri usaha saya. Karena beberapa pekerjaan yang terkait seperti toko kertas, tukang sablon, tukang cetak, dan semua yang terkait sama mengalami hal serupa. Dengan demikian pemakluman lah yang harus di penuhi. Namun karena beberapa langganan kami adalah kantor-kantor yang tidak mengalami libur sepanjang itu maka saya memberlakukan lembur bagi karyawan yang tinggal di Jabodetabek, meski beberapa pekerjaan tetap tidak bisa dijalankan.

Manajemen Mr Copy sendiri telah memulai mempunyai ritual menjelang lebaran selain pembagian THR diantaranya adalah buka puasa bersama serta pembagian parcel.   Berbuka puasa bersama sudah menjadi kebutuhan bukan saja karena kebutuhan akan komunikasi dan kebersamaan namun juga bagian dari wujud silaturahmi antara karyawan dan manajemen. Untuk parcel manajemen lebih memfokuskan pada bahan kebutuhan pokok yang memang menjadi keinginan karyawan ditambah dengan baju atau sarung. Tak dipungkiri kondisi kadang tidak seperti yang diharapkan terlebih adanya resesi global seperti tahun ini. Beberapa outlet terkena imbasnya. Dalam kondisi seperti ini manajemen tetap bersikukuh untuk memenuhi kewajiban dan ritual tahunannya ini bagaimanapun caranya. Alasan utama sederhana saja manajemen menganggap ini sudah menjadi HAK KARYAWAN.

Dalam situasi ini bisa menggambarkan bagaimana hubungan industrial antara buruh dan pengusaha terjadi. Hal ini seringkali menjadi topik diskusi yang menarik bersama teman-teman. Hingga ada yang menanyakan, “Kalau begini enakan tangan diatas atau dibawah yah?”

Jawab saya sederhana saja. “Dua-dua harusnya enak”. Karena dalam hubungan industrial antara karyawan dan majikan faktor terpenting adalah bagaimana menyeimbangkan pemenuhan antara hak dan kewajiban kedua belah pihak. Bila telah saling menunaikan kewajiban pastinya hak akan mengikuti dan dipenuhi. Tinggal bagaimana keikhlasan dalam menunaikan kewajiban ini di ekspresikan. Agar KEWAJIBAN menjadi pemenuhan tanggung jawab yang diemban dan HAK menjadi ridho bagi keduanya.

Facebooktwitterredditpinterestmail

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


7 − = two