Kampanye Call & Copy!

Belajarlah dari pepsodent meski telah menguasai market namun tetap tak lelah mengguyur benak konsumen dengan keberadaan dan inovasinya melalui iklan. Juga belajarlah dari Mie sedap yang merasa dirinya sebagai new comer hingga tak berputus asa untuk menggebrak pasar dengan beragam komunikasi agar dirinya dikenal dan diterima masyarakat. Hasilnya pepsodent masih terus dipandang sebagai merek yang establish dan mie sedap mampu merong-rong pangsa pasar indofood dari 90%-nan menjadi angka 75%-an.

Itulah yang sekarang dikerjakan oleh MR. Copy. Usaha photo copy & percetakan dengan pangsa pasar menengah atas dan kalangan bisnis karena letaknya yang berada di komplek perkantoran ini, mulai menggeliat dari rutinitas yang sudah dijalani mulai tahun 1998. Kampanye Program Cal & Coppy diluncurkan bulan Juli 2007 ini. Beberapa media komunikasi digunakan antara lain, brosur, email dan website. hingga jangan kaget bila menemui promonya:[…….]

Continue Reading

Nama Dan Baju Bagi Produk Kita

Suatu pagi saat saya berada di depan kelas, saya lihat sekilas bahwa begitu bedanya penampilan mereka dengan saat-saat saya kuliah dulu. Sayapun menanyakan kepada mereka mengapa mereka berpenampilan seperti itu. Ternyata banyak jawaban yang mengatakan bahwa penampilan mereka hanyalah duplikasi atau sekedar meniru mode yang ngretend sekarang. Pun bila saya tanyakan pada pasangan-pasangan muda yang yang baru saja memiliki baby. Kenapa nama anak mereka tak pernah jauh dari nama manis Salsabila, Daffa, Naufal, Nayla dan sekelompoknya. Sama, karena satu trend!.

Bagi satu produk Merek adalah nama mereka dan logo adalah salah satu pakaian mereka. Dan amatlah salah bila nama dan merek hanya didasarkan pada filosofi “kengetrend-an” semata terlebih pada satu peniruan. Saya ingat sekali kakek saya dulu pernah bilang berpakaianlah sesuai dengan pribadimu dan berilah nama sesuai dengan harapan dan cita-citamu. Jadi singkatnya saya menyimpulkan bahwa Nama dan logo haruslah beda dan unik dibandingkan nama dan logo lain. Lebih afdol lagi bila nama dan logo itu bisa mencerminkan baik feature, tampilan ataupun kinerja dari produk yang ada. Sehingga nantinya kita akan dengan mudah membangun persepsi yang sama antara produk yang kita lempar ke pasar dengan persepsi konsumen akan produk tersebut. Jangan sampai produk yang kita segmentasikan bagi kalangan menengah ke atas ternyata di assosiasikan murahan oleh konsumen hanya karena kita tidak tepat dalam memberi nama dan baju bagi produk kita.[…….]

Continue Reading

Perang Reklame

Siang ini ada sms yang memberitahukan bahwa aku harus mengecek emailku. Sebenernya dengan mudah email bisa aku download ke PDAku tapi sayang aku kesulitan untuk membalasnya. Tak ada pilihan lain kecuali ke warnet. Dan tak ada pilihan lain sepeda motorlah angkutan paling nyaman di kota Jogja ini. Beruntung hari tidak hujan terikpun belum datang. Sedari awal ibuku sudah memperingatkan untuk memakai helm standart. Standart polisi jogja.

Menyusur jalan Demangan hingga ujung ring road utara aku dikejutkan sekaligus di jejali dengan bermacam reklame yang muncul dari setiap usaha bagai jamur di musim penghujan. Hampir semua toko dan tempat usaha sepanjang jalan memajang reklame, tak hanya papan toko tapi juga baliho spanduk dan berbagai ad communication untuk menarik minat konsumen. Sangat menarik karena berbagai desain unik mulai warna, nama, ukuran dan bahan saling beradu. Namun juga sangat menyesakkan karena tak ada aturan baku sehingga masing-masing reklame tak tertata dengan rapi dan makin semrawut. Konsumen pun makin dibingungkan dengan berbagai informasi yang menggelontor tiada habisnya.[…….]

Continue Reading

Telephone Manner

“Selamat pagi Mr Copy, Bisa dibantu?”
“Dengan Siapa?”
“Oh ya lupa!” Suara di seberang telepon tertawa malu dan kembali mengulang “Selamat Pagi dengan Iwan bisa dibantu?”
“Loh Mr. Copynya mana?”
“Selamat Pagi Mr Copy dengan Iwan bisa dibantu?”
“Nah gitu, bagus!” Kamipun tertawa ringan untuk satu kesalahan ini. Satu hal yang sepele untuk mengucapkan greeting lewat telpon, tapi tak sepele yang dikira bila lebih dari 8 tahun berbisnis kata itu belum pernah terlontarkan.

Tahun ini banyak hal yang dicoba untuk dikembangkan dan di benahi di Mr. Copy salah satunya mengenai telphone manner. Tujuan utamanya jelas berupaya memberikan satu pelayanan yang standart di beberapa outlet yang telah tersebar. Dan telephone manner adalah langkah awalnya. Meski dalam rapat bulanan program ini telah disepakati untuk diterapkan namun tak ada progress berarti dalam perjalannannya. Masih saja beberapa karyawan bahkan saya sendiri terlupa dan belibet untuk mengucap kalimat “selamat ………. Mr. Copy dengan ………. bisa dibantu!” seringnya hanya kata “halo……Mr. Copy selamat ……….” atau malahan beberapa improvisasi pribadi yang tak jelas, termasuk kalimat “Yack sapa ini!” wah! [……..]

Continue Reading

Serabi Rasa Durian

Saya tidak suka durian jangankan rasanya, aromanya saja sudah membuat saya mabok. Tapi saya suka sekali dengan serabi tidak saja rasa dan tekstur kulitnya tapi saya juga suka membuatnya. Bahkan bisa dikatakan ahli. Saya putuskan untuk membuat usaha serabi rasa durian karena usaha ini sangat menyenangkan. Membuat serabi bagai hoby bagai saya sementara rasa durian menjadi pilihan saya, meski saya kurang menyukainya tapi itulah yang di minati oleh konsumen saya.


Saya kerap kali menginspirasikan konsep “serabi rasa durian” ini bagi rekan-rekan saya yang akan memulai bisnis. Kebingungan seringkali muncul untuk menentukan usaha apa yang tepat untuk dijalani. Ikut trendkah atau mengikuti kata hati.


BUATLAH SERABI
Bisa dibilang menjalankan usaha yang bersandar dari kesenangan, minat, keahlian atau hoby akan membuat usaha yang kita jalankan menjadi lebih ringan dan menyenangkan. Tak ada rasa berat saat bersusah payah membangunnya dan tak ada kata lelah kala memikirkan perkembangannya. Karena kita tak lagi melihat usaha ini hanya sebagai pekerjaan. Namun sudah ada hidup dan hati kita yang ditaruh di sana, yang membuat semangat kita pantang untuk padam. Bagaimanapun dalam berwira usaha, diri kitalah yang akan menjadi kaki dan otak jalannya usaha. Kaki dan otak tak akan terbakar semangat dan hasratnya bila tak dijembatani dengan adanya hati disana. Tanpa adanya kesenangan yang melandasinya. […….]

Continue Reading

Bizz, Words & Lens … A Conceptual Journey

Aku masih ingat, saat itu akhir Desember 2005. Di Beteng Vredeberg tempat kami melangsungkan kopdar Go Blog Jogja pertama, di hadap sorot handycam seorang rekan menanyakan tujuan kami nge-blog satu persatu.

“Karena talent!,”Jawabku singkat begitu sampai digiliranku.
Jawaban ini mengundang tawa dan olok-olok “dasar Narcist”

*****
Berangkat dari hal sederhana saat Desember 2005 Blog bertajuk “Samwords” resmi online setelah dikenalkan oleh seorang teman semasa kecil. “Aku hanya ingin kembali bisa menulis” itulah hal sederhana yang ada dipikiranku. Sengaja blog ini aku jadikan semacam terapi mental karena hampir 10 tahun keinginanku menulis tiba2 punah, hanya karena sefolder tulisanku hilang begitu komputer machintoshku di pinjam teman semasa kuliah. Merealisasikan keinginan ternyata tidak mudah karena hampir sebulan tak ada tulisan pribadiku yang aku posting kecuali saduran dari email. Tidak saja ide yang tak ada, semangatpun sama sekali tak tumbuh. Tak ingin berjalan ditempat, aku mulai mencoba untuk mengkonsep isi blog yang sedari awal memang aku beri nama dengan membelokkan kata “Some” dengan “Sam” yang diikuti dengan “Words”. Hingga aku memutuskan untuk menuliskan hal-hal kecil disekelilingku dengan harapan bisa memberikan inspirasi-inspirasi kecil yang positif bagi orang lain, terutama sebenernya untuk diriku sendiri. “Just Some Inspiration Words … It’s Just Samwords!” akhirnya kalimat itu aku pilih untuk menjadi visi kecil untukku menulis dan memberi identitas bagi blogku. Januari akhir tulisan pribadiku perlahan terposting. Lega rasanya terapi ini perlahan membuahkan hasil. […….]

Continue Reading