Menciptakan Momentum (Part I)

(SWOT Analysis)

Ada yang menarik saat pelaksanaan Workshop Ngeblog Sambil Ngebizz yang digelar Blogfam tanggal 28 Juli lalu di Hotel Sofyan Tebet. Saat sesi motivasi banyak muncul kata “Momentum”. Satu kata penanda “saat yang tepat” untuk memulai langkah terjun ke dunia bisnis. Tidak saja Yulia dari TDA yang mencetuskan kata itu, tapi beberapa peserta yang sharing pun mentestimonikan bahwa banyak momentum yang mereka dapatkan karena satu kepahitan. Entah itu ditipu orang, karena krismon, karena bangkrut dan sebagainya. Karena kepahitan itulah timbul satu tekat untuk menjalankan bisnis sendiri. Benar dikata bahwa sebenarnya momentum itu adalah kita sendiri yang seharusnya menciptakan. Karena pada dasarnya banyak kejadian di sekitar kita yang berlangsung dan menunggu dijadikan momentum yang tepat. Namun kini timbul pertanyaan apakah momentum yang tepat itu adalah selalu peristiwa yang pahit?

Jawabannya tentu saja , TIDAK!. Bahkan bila anda jeli untuk melihat sekitar anda, idealnya anda bisa memulai suatu bisnis disaat anda masih mampu mendapatkan penghasilan dari sektor non bisnis. Dengan demikian anda bisa mengisi “waktu pendapatan jeda” dimana bisnis anda belum menghasilkan return dengan sumber pendapatan non bisnis yang anda tekuni sekarang. Begitu bisnis tersebut telah besar dan mulai menjanjikan anda bisa menekuni dan melepas pekerjaan non bisnis anda. Lalu apa yang harus dilakukan untuk memperoleh momentum itu?. Ciptakan kemauan dan komitmen untuk segera mencari peluang bisnis. Dan pada nyatanya banyak sekali peluang yang ada di sekitar kita. Kita hanya perlu untuk memilih dan memilahnya.[…….]

Continue Reading

Gelontor Terus

Satu kali saat rumah saya pindah saya selalu menemukan selebaran di depan carpot. Entah itu diselipkan dipagar, ditempel dengan sticker ataupun sekedar dilemparkan. Saya hanya melihat sepintas. Beberapa selebaran berupa kataloc yang cukup bagus pencetakannya dikirim berbungkuskan plastik dan jelas untuk siapa tertujunya. Lainnya berupa selebaran copian di kertas warna dan selebihnya dicetak ofset 1 warna dengan kertas karton. Semula saya memandang sekilas dan selanjutnya tempat sampah adalah tujuan saya. Membuangnya. Brosur delivery makanan, catering, service peralatan rumah tangga, les private dan lain-lainnya sama sekali tak saya butuhkan. Wajar bila saya membuangnya. Hampir setahun saya menghuni rumah itu dan tak pernah surut brosur-brosur itu berdatangan dengan cara yang sama. Diselipkan dipagar, ditempel dengan sticker atau kadang sekedar dilemparkan. Saya pun tetap melakukan ritual lama saya. Membuangnya!

Satu ketika pompa jet pump saya rusak tanpa sebab. Meski ada air PDAM tak urung kami sekeluarga kelabakan juga. Logikanya harus dihadirkan seorang teknisi servise dengan segera, tapi dimana mendapatkannya dengan cepat? Prakteknya tak mudah untuk mendapatkan seorang teknisi disaat darurat begini. Selain tak pernah menggunakan jasa seperti ini, sayapun tak ada acuan informasi yang tepat di mana mendapatkannya. Saya hanya bisa berandai-andai bila ada informasi saat itu alangkah asangat menolong. Pikiran saya langsung teringat dengan brosur-brosur yang sering terserak di carpot dan berakhir di tempat sampah. Belajar dari pengalaman itu kini sering mensortir brosur-brosur yang masuk carpot saya. Sekiranya saya belum punya brosur itu meski jasa layanan yang diberikan belum tentu saya butuhkan akan saya simpan. Saya hanya berfikir untuk “jaga-jaga”. Dalam keseharian sebenarnya tak banyak keluarga yang punya pengalaman yang berbeda dengan saya. Pada umumnya mereka sama, merasa perlu akan brosur-brosur itu disaat dibutuhkan. Disaat kepepet! […….]

Continue Reading

Haruskah Gratis?

“Mahal sekali?”
Ini bukan komentar pertama yang aku terima di email juga bukan yang ke dua di YM.
“Kok gak gratis saja, kalau gratis Ok-lah buat ikut!”
Kembali aku dapatkan komentar ini yang tentunya bukan yang ketiga.
Aku sama sekali tidak heran!

Tanggal 28 Juli 2007 Blogfam mengadakan “WORKSHOP NGEBLOG SAMBIL NGEBIZZ”. Satu workshop interaktif bagi blogger yang berminat untuk mengembangkan usaha baik sebagai bisnis sampingan ataupun satu pilihan karir dengan menggunakan media blog sebagai media bisnis. Workshop ini saya lontarkan saat Mbak Elsa salah satu Moderator Blogfam pulang menegok negrinya. Dan didukung temen-teman blogfam dilemparkanlah workshop ini. Tak ada niatan lain di balik workshop ini selain keinginan untuk memberikan kegiatan positif bagi anggota blogfam untuk bisa memanfaatkan blognya lebih maksimal dan lebih memberikan peluang. Akan disyukuri bila nyatanya pelatihan ini bisa dibutuhkan anggota sehingga menjadi agenda rutin Blogfam setara dengan agenda Jumpa Penulis Blogfam yang telah beberapa kali tergelar.[……..]

Continue Reading

Keamanan & Kenyamanan, Haruskah Kontra?

Seharusnya patut dikeluhkan. Dan saya pun patut mengeluh. Dampak dari aksi terorisme bukanlah sekedar dampak perih yang disandang oleh keluarga korban bom Mariot, bom Bali, Kerusuhan Poso atau berbagai kejadian memprihatinkan lainnya. Dampak itu telah merembes bagai air yang tak dapat dicegah. Ambil hitungan. Travel warning pernah diterapkan beberapa negara bagi warganya yang akan mengunjungi negara kita, dampaknya sektor pariwisata terpukul dan terkapar. Keberadaan saudara-saudara kita diluar mulai diintimidasi, dampaknya nama kita tercoreng dalam pergaulan sosial dunia. Bahkan kitapun sudah tidak nyaman lagi untuk mengunjungi tempat-tempat publik dan perkantoran karena harus rela untuk “digeledah”! Tak terbayang bukan bahwa korelasi tindakan akan sedemikian menglobal dan merambah semua sektor.

Wokshop kerja saya bertempat di publick space sebuah gedung yang tiap kali masuk harus melewati gerbang pemeriksaan baik itu untuk pejalan kaki maupun yang berkendaraan. Penjagaan yang sebelumnya hanya mengamati kini sudah diwajibkan untuk menggeledah meski kadang hanya di longok semenjak aksi terorisme mewabah beberapa tahun lalu. Jauh dalam hati saya memaklumi keadaan ini. toh hasilnyapun untuk kepentingan bersama dan saya masih bersyukur beberapa konsumen saya yang berada di luar komplek gedung masih loyal untuk mampir. Kebetulan sekali lokasi komplek gedung itu merupakan penghubung antara jalan Benhill dengan jalan jendral Sudirman. […….]

Continue Reading

Kampanye Call & Copy!

Belajarlah dari pepsodent meski telah menguasai market namun tetap tak lelah mengguyur benak konsumen dengan keberadaan dan inovasinya melalui iklan. Juga belajarlah dari Mie sedap yang merasa dirinya sebagai new comer hingga tak berputus asa untuk menggebrak pasar dengan beragam komunikasi agar dirinya dikenal dan diterima masyarakat. Hasilnya pepsodent masih terus dipandang sebagai merek yang establish dan mie sedap mampu merong-rong pangsa pasar indofood dari 90%-nan menjadi angka 75%-an.

Itulah yang sekarang dikerjakan oleh MR. Copy. Usaha photo copy & percetakan dengan pangsa pasar menengah atas dan kalangan bisnis karena letaknya yang berada di komplek perkantoran ini, mulai menggeliat dari rutinitas yang sudah dijalani mulai tahun 1998. Kampanye Program Cal & Coppy diluncurkan bulan Juli 2007 ini. Beberapa media komunikasi digunakan antara lain, brosur, email dan website. hingga jangan kaget bila menemui promonya:[…….]

Continue Reading

Nama Dan Baju Bagi Produk Kita

Suatu pagi saat saya berada di depan kelas, saya lihat sekilas bahwa begitu bedanya penampilan mereka dengan saat-saat saya kuliah dulu. Sayapun menanyakan kepada mereka mengapa mereka berpenampilan seperti itu. Ternyata banyak jawaban yang mengatakan bahwa penampilan mereka hanyalah duplikasi atau sekedar meniru mode yang ngretend sekarang. Pun bila saya tanyakan pada pasangan-pasangan muda yang yang baru saja memiliki baby. Kenapa nama anak mereka tak pernah jauh dari nama manis Salsabila, Daffa, Naufal, Nayla dan sekelompoknya. Sama, karena satu trend!.

Bagi satu produk Merek adalah nama mereka dan logo adalah salah satu pakaian mereka. Dan amatlah salah bila nama dan merek hanya didasarkan pada filosofi “kengetrend-an” semata terlebih pada satu peniruan. Saya ingat sekali kakek saya dulu pernah bilang berpakaianlah sesuai dengan pribadimu dan berilah nama sesuai dengan harapan dan cita-citamu. Jadi singkatnya saya menyimpulkan bahwa Nama dan logo haruslah beda dan unik dibandingkan nama dan logo lain. Lebih afdol lagi bila nama dan logo itu bisa mencerminkan baik feature, tampilan ataupun kinerja dari produk yang ada. Sehingga nantinya kita akan dengan mudah membangun persepsi yang sama antara produk yang kita lempar ke pasar dengan persepsi konsumen akan produk tersebut. Jangan sampai produk yang kita segmentasikan bagi kalangan menengah ke atas ternyata di assosiasikan murahan oleh konsumen hanya karena kita tidak tepat dalam memberi nama dan baju bagi produk kita.[…….]

Continue Reading

Perang Reklame

Siang ini ada sms yang memberitahukan bahwa aku harus mengecek emailku. Sebenernya dengan mudah email bisa aku download ke PDAku tapi sayang aku kesulitan untuk membalasnya. Tak ada pilihan lain kecuali ke warnet. Dan tak ada pilihan lain sepeda motorlah angkutan paling nyaman di kota Jogja ini. Beruntung hari tidak hujan terikpun belum datang. Sedari awal ibuku sudah memperingatkan untuk memakai helm standart. Standart polisi jogja.

Menyusur jalan Demangan hingga ujung ring road utara aku dikejutkan sekaligus di jejali dengan bermacam reklame yang muncul dari setiap usaha bagai jamur di musim penghujan. Hampir semua toko dan tempat usaha sepanjang jalan memajang reklame, tak hanya papan toko tapi juga baliho spanduk dan berbagai ad communication untuk menarik minat konsumen. Sangat menarik karena berbagai desain unik mulai warna, nama, ukuran dan bahan saling beradu. Namun juga sangat menyesakkan karena tak ada aturan baku sehingga masing-masing reklame tak tertata dengan rapi dan makin semrawut. Konsumen pun makin dibingungkan dengan berbagai informasi yang menggelontor tiada habisnya.[…….]

Continue Reading